5 Minutes Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 4

~ Rise Of The Problems ~
I

Akhirnya, dengan masih menyimpan beban dongkol di dada, dikarenakan ban depan sepedaku yang tau-tau kempes, sehingga aku tidak dapat melanjutkan pengejaran, yang artinya lepas pula kesempatanku untuk mengetahui rahasia sebenarnya dari kedekatan Siti dan Lelaki tersebut..

***

Tambal Ban “Bang Ulil”, disinilah akhirnya aku berlabuh, sebuah kios tambal ban yang terletak sekitar 500 meter arah kanan dari kampus..

“Kenapa lagi Di motormu?, bukannya kemarin baru saja lulus dari sini? Tanya Bang Ulil begitu aku selesai memarkir motor dengan kemeja yg hampir basah mirip kehujanan, padahal cuaca di siang itu sangatlah panas, mungkin sepanas hatiku setelah melihat kejadian Siti tadi namun tak mampu menelusuri lebih lanjut kebenarannya..

“Ini bang, tiba-tiba saja ban depan kempes, di santet orang mungkin, lha tadi pagi masih sehat, tau-tau tadi mau tak bawa kempes”, jawabku kemudian sambil mengambil tempat duduk khusus pelanggan, kemudian membuka 2 kancing teratas kemejaku, sehingga dada agak bidangku yang berhias Tatto motif tribal hasil karya temanku Tono sedikit mengintip, sembari mengibas-ibasakan sobekan bekas tutup kardus salah satu merek minuman untuk sekedar mengusir gerah..

“Ya sudah, tunggu sebentar, aku selesaikan ini dulu”, sambung bang Ulil sambil meneruskan pekerjaannya memasang disc brake depan motor langganan yg tadi di kerjakannya..

10 menit kemudian, setelah motor yang di garapnya tadi selesai, Bang Ulil beralih mengerjakan motorku, mulai di buka ban depan yang kempes tadi, untuk kemudian di ambil ban dalam, di cek ada kebocoran ataukah tidak! Sampai pada akhirnya, setelah di temukan sebuah lobang kecil bekas tambalan sebelumnya yang ternyata terkelupas kembali, Bang Ulil kemudian menambalnya, membakar tambalan baru untuk lebih merekatkan lem..

“Ehh Di, aku tanya sedikit boleh?, tiba-tiba saja Bang Ulil bertanya..

“Ehh, I-iyya Bang, memang mau tanya apa?” Jawabku tergagap karena pertanyaan tiba-tiba tadi..

“Kamu apa masih jalan sama, samaaaa… aduhh”,

“Jalan sama siapa Bang”, ucapku memotong pertanyaan Bang Ulil

“Sama itu lho Di, pacarmu itu lhoo, siapa ya namanya?,

“Siti maksud abang”, jawabku memperjelas maksud pertanyaan Bang Ulil

“Iyya, Siti, yang dulu sering kamu ajak ke sini kalo kamu servis”,

“Masih Bang, memang kenapa” jawabku sambil mendekat ke arah Bang Ulil sambil berpindah duduk di bangku kecil dekat Bang Ulil..

Aku memang sering mengajak Siti kalau misal aku servis atau untuk urusan yg lain seperti tambal ban seperti saat ini, Bang Ulil memang langganan Mahasiswa Kampusku dan sekitarnya, karena selain orangnya ramah, santai dan enak di ajak ngobrol, hasil pekerjaannya pun sangat memuaskan, sehingga kebanyakan akan balik lagi kalau mereka ada masalah dengan motor mereka..

“Kok kemarin aku lihat Pacarmu itu jalan sama orang lain Di”, jawab Bang Ulil kemudian

Plaaasss..

Jawaban Bang Ulil seperti sebuah tamparan yang cukup telak mengena di wajahku tanpa sempat aku menangkisnya..

“Ahh, Bang Ulil salah lihat orang mungkin”, sangkalku untuk menutup keterjutanku

Terus terang saja, sebenarnya aku tidak cukup terkejut dengan jawaban Bang Ulil tadi, sebuah jawaban singkat yang hampir sama seperti jawaban yang aku dengar dari teman-temanku akan permasalahan dengan Siti, jawaban yang hampir kesemuanya menyatakan bahwa ada yang salah dengan kelakuan Siti akhir-akhir ini kalau di belakangku, yang kesemuanya bermuara pada perselingkuhan Siti..

Namun aku bukanlah orang yang begitu saja gampang percaya tanpa pembuktian! Aku dari kecil sudah berprinsip, “Tanpa Bukti, Tanpa Arti”.. Namun aku juga bukan menyepelekan atas apa yang telah di katakan Bang Ulil dan juga teman-teman lainnya, karena aku tau dengan pasti bagaimana mereka..

“Salah bagaimana Di?, mataku ini masih normal Di, masih bisa melihat dengan benar, apalagi melihat cewek macam Pacarmu itu, dan juga cewek-cewek kampus yang sering bersliweran di depan kios kalau pulang kuliah”, sambung Bang Ulil sambil kemudian mengambil ban dalam yang telah di bakar sebelumnya, sambil kemudian mencoba memompanya lagi untuk sekedar mengecek apakah tambalannya masih ada kebocoran atau tidak..

“Memangnya Bang Ulil berani lirak-lirik cewek kampus? Apa punya keberanian? Ndak takut samaaa, itu tuhh” balasku sambil dengan anggukan kepala tertuju pada Istri Bang Ulil yang sibuk di Kios Rokok sebelah Kios Bang Ulil ini..

Oiyya.. Selain Kios Tambal Ban, Bang Ulil juga mempunyai Kios Rokok dan makanan ringan untuk di kelola istrinya..

“Eehh, jangan kenceng-kenceng Di, bisa ndak dapat jatah nanti malam Si Otong” elak Bang Ulil sambil berbisik takut di dengar istrinya..

***

Sambil menunggu Bang Ulil menyelesaikan kerjaannya, aku sedikit melamun dan mengingat-ngingat beberapa kejadian yang terjadi beberapa bulan terakhir ini antara aku dengan Siti, akhir-akhir ini sering sekali Siti protes ke aku, aku ingat beberapa di antaranya,

(Mas Dion sekarang ndak Romantis Lagi, kalau jalan-jalan sekarang jarang sekali menggandeng Siti, Mas Dion ndak Romantis, kalau sedang makan berdua Siti sekarang juga jarang di suapi, Mas Dion ini.. Mas Dion itu.. Mas Dion ini itu.. Pokoknya Masih banyak alasan yang dikemukakan Siti)..

***

Itulah beberapa alasan yang dikemukakan Siti kepadaku, padahal dari awal aku sudah sering bilang, aku bukanlah orang bertipe romantis, bukanlah orang yang pernah berpacaran..

Siti adalah pacar pertamaku, wanita pertama di hatiku.. Aku yang sebelumnya sama sekali tidak pernah memikirkan yang namanya pacaran, entah kenapa bisa berpaling ke Siti, padahal sebelumnya sudah banyak cewek-cewek di kampus yang mungkin bisa dikatakan lebih cantik dan sexy dari Siti secara terus terang bilang suka ke aku, namun aku tidak pernah sekalipun tertarik, aku lebih tertarik kerja part time, menikmati ke-Jombloanku dengan teman-temanku, alcohol drunk, jotos-jotosan, kesemuanya lebih menarik perhatianku!

Namun kesemuanya berangsur-angsur beralih ketika aku bertemu Siti, adik tingkat Fakultasku.. Siti yang putih, berambut lurus sepunggung, cerewet, semampai dengan tunjangan bokong yang menungging serta di hiasi bukit kembar 34B di dadanya, benar-benar membuatku berpaling, sampai pada akhirnya aku jadian dengan Siti..

Namun, kebersamaan yang dulu sangat aku nikmati, akhir-akhir ini…

******‚Äč

“Ehh Di, sudah selesai ini”, kata Bang Ulil yang sudah menyelesaikan kerjaannya menambal ban motorku yang bocor, sekaligus mengagetkan lamunanku akan Siti tadi..

“Ehhh, iiyya Bang, berapa ongkosnya”, jawabku tergagap sambil merogoh uang di saku celanaku..

“5 juta Di, seperti biasanya, Hahahahahaaa”, jawabnya berkelakar, memang Bang Ulil ini senang berkelakar dari dulu, coba bayangkan saja, mana ada biaya tambal Ban 5 juta..

“Ini Bos ongkosnya, kembali 5 Juta ya”, kelakarku balik sambil menyerahkan uang pecahan 10 Ribuan, sambil mengambil kembaliannya 5 Ribu dari tangan Bang Ulil..

Untuk diketahui saja, 5 juta seperti yang di bilang Bang Ulil tadi sebenarnya adalah 5 ribu rupiah, namun Bang Ulil sering berkelakar untuk sekedar bersosialisasi dengan pelanggannya, untuk sekedar menciptakan kesan khusus di mata pelanggannya..

***

Akhirnya, akupun meneruskan untuk kembali saja ke kost, tidur, untuk sekedar melepas beban yang saat ini ada! Beban Skripsi, Beban Masalah Siti, serta beberapa beban yang tidak akan mungkin dapat terselesaikan dengan kondisi seperti di Bengkel Bang Ulil ini..

***

To be continued