5 Minutes Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 2 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 1

~ The Chronicle Of Past Time ~
I

Teeett.. Teeeett.. Teeeeeeeettt..

“Baiklah semuanya.. Sepertinya pertemuan kali ini cukup sampai di sini, jadi tolong untuk sisa pembahasan pada bab ini di pelajari sendiri dulu untuk selanjutnya kita jadikan acuan untuk pelaksanaan tugas kelompok lapangan minggu yang akan datang”..

***

Begitulah kiranya sekilas penutup perkuliahan hari ini, perkuliahan materi Ilmu Pakan Dasar yang di ampu oleh Ir. Sutrisno Prawiro Utomo, P.hD.. Salah satu Dosen Senior di Fakultas Peternakan, salah seorang Dosen Senior Lulusan S3 University Of New South Wales (UNSW) Melbourne Australia, salah seorang Dosen Senior yg tidak perlu di ragukan lagi kredibilitas serta keilmuannya..

Namun mungkin tidak bagiku,

Karena meskipun beliau termasuk salah satu expert lecture, aku kurang, atau bahkan tidak mampu untuk memanfaatkannya!

Iyyaa.. Kuakui itu, karena mestinya aku sudah menyelesaikan mata kuliah beliau saat semester 4 yg telah lalu, bukan saat aku semester 8 seperti saat ini yg menyebabkan aku harus masuk dan mengikuti perkuliahan bersama adik-adik tingkatku..

Hahhaaaaa…

Aku sebenarnya cukup malu, namun mau bagaimana lagi, kalau mata kuliah 4 SKS ini tidak aku tempuh, Indeks Prestasi Komulatifku tercatat dalam taraf mengkhawatirkan, selain itu, dasar keilmuan dari mata kuliah ini juga sedikit banyak berpengaruh pada hipotesis skripsi yg juga sedang aku laksanakan pada semester ini..

***

Sebagaimana telah sedikit aku ceritakan di atas, mestinya mata kuliah ini telah ku tempuh di semester 4 dulu, namun bukannya masuk kuliah seperti teman-teman satu angkatanku, aku malah lebih memilih untuk menekuni pekerjaan part time ku di sebuah pabrik tekstil yg berstandar internasional, pekerjaan yg mengharuskan aku sama sekali tidak pernah masuk mata kuliah beliau, pekerjaan yg menjanjikan gaji berstandar dollar, pekerjaan yg memberi aku 3 Juta 750 Ribu per bulan, yg sudah lebih dari cukup untuk biaya hidup dan lain sebagainya di tempatku kuliah untuk waktu 2 bulan lebih meskipun aku cuma kerja 3 hari dalam 1 minggu, namun jadwal kuliah beliau ternyata bertepatan dengan jadwalku masuk kerja..

Haaaahhh.. Dasar Semrawut..

Selain itu.. Aku memang sudah menyandang gelar Bad Boys sejak Jaman SMA dulu, Mabuk, Tawuran, Bolos, seakan sudah menjadi menu wajib, namun, meskipun aku menyandang gelar itu, ada sedikit rasa bangga di dada yg mungkin membedakanku dengan teman-teman sekolahku dulu, saat teman-temanku masih merengek macam bayi ke orang tuanya untuk urusan uang saku, aku bahkan sudah bisa memberi uang saku ke adik-adikku..

Hebat Bukann..

Hebat… Meskipun cuma aku sendiri yg merasakan itu..

Aku memang telah terbiasa mandiri dari SMA dulu, uang dari hasil aku jadi kuli setelah pulang sekolah di tempat pamanku, sudah lebih dari cukup untuk membayar SPP dan Uang Jajan bahkan untuk Menunjang gelar Bad Boys ku.. Bagaimana tidak, mentraktir Teman-teman untuk membeli minuman keras bisa dengan mudah aku lakukan, yg menjadikan aku banyak teman dari berbagai golongan, bahkan waktu aku dihadang oleh sekelompok anak dari sekolah tetangga, aku bisa dengan mudah mendatangkan bala bantuan..

Namun…

Meskipun aku menyandang gelar negatif itu, gelar pelajar berprestasi di sekolahpun aku sandang.. Aku boleh berbangga diri di hadapan teman sekolahku bahkan para guru, aku pernah menjadi Juara 1 Olimpiade Kimia tingkat Kabupaten, yg mestinya bisa menjadikan aku salah satu wakil ke kejuaaraan Nasional, namun urung karena saat kompetisi berlangsung, aku malah terkapar di rumah sakit karena di keroyok anak sekolah sebelah saat pulang sendirian dan dalam kondisi mabuk..

Dan…

Kemandirianku pun masih berlanjut saat aku kuliah seperti yg aku ceritakan di atas bersamaan dengan gelar bad boys nya juga…

Demikian pula pergaulanku…

***

Di kota ini temanku juga bervariatif.. Dan lagi-lagi, keuangan tidak menjadi masalah buatku apalagi setelah aku kerja part time.. Namun mungkin kekuranganku saat ini hanya satu.. Meskipun aku punya dana lebih, mulai semester 1 sampai semester 6 aku pernah merasakan yg namanya Pacaran, beda dengan teman-temanku yg sudah dari awal banyak yg bergandeng ria, jalan-jalan, atau bahkan mungkin ada sebagian yg sudah pernah merasakan ber- ahh uhhh bersama pasangannya, aku malah lebih mencintai kesendirianku..

Tapi jangan salah tafsir dulu, karena yg jelas aku bukannya tidak normal atau yg sering orang bilang HoHoBa..

Aku Normal, Swear.. Aku Normal,

Hal tersebut bisa dibuktikan oleh Penisku yg masih bisa berdiri saat Melihat Sora Aoi atau Maria Ozawa sedang berkolaborasi dengan pasangan prianya, dan juga masih bisa terangsang sangat mendengar mereka merintintih-rintih keenakan di genjot pasangannya..

Namun..

Perubahan kondisipun terjadi saat aku mulai masuk semester 7, ndak tau kenapa tiba-tiba saja timbul perasaan ingin pacaran, bahkan pikiran kecil nakalku menginginkan bisa merasakan enaknya ber-ahhh uhhh seperti teman-teman..

Sampai akhirnya aku kenal dengan salah satu Mahasiswi bernama Siti Maysaroh.. Salah seorang Mahasiswi adik tingkatku, dan dengan Siti pulalah beberapa petualangan baru yg lebih bervariatif aku jalani.. dengan Siti pula aku akhirnya bisa…

***

“Dion”… Suara Pak Prawiro tiba-tiba saja mengagetkanku..

“Haahh”, “iii..iyya Pak”.. Jawabku tergagap

Ahh siiiaalll.. Ternyata aku masih di dalam ruangan kelas, memang dari tadi aku bisa dikatakan kurang memperhatikan penjelasan beliau, pikiranku lebih berkutat ke Siti, Siti yg dulu baik, perhatian, enak di ajak ngobrol, bahkan enak untuk di naiki saat si Dion Jr Pusing Kepala, ternyata dalam 2 bulan terakhir ini terlihat banyak berubah..

“Dion”, “setelah ini ikut saya ke kantor fakultas”..

“Iyya Pak” jawabku lesu..

Haaaaahhh.. Apa lagi ini, apa beliau tau dari tadi aku tidak konsentrasi, padahal ini kesempatan emasku untuk memperbaiki nilai.. Kalau sampai aku tidak lulus juga semester ini.. Maka mau tidak mau harus mengulang lagi semester depan.. Semester depan.. Oooohh Tidakk!

“Dion”, “Bagaimana dengan Hasil Hipotesis Bahan dan Alat untuk skripsimu, sudah adakah hasil konkritnya?”..

“Ssuu.. Sudahh Pak”.. Sambil aku buka tas ku..

“Jangan di sini, kita ke kantor Fakultas saja”..

“Baik Pak”..

Akhirnya dengan langkang gontai akupun mengikuti beliau ke kantor Fakultas..

“Silahkan Duduk, dan keluarkan hasil hipotesismu”..

Akupun duduk dan mengambil yg beliau minta dari dalam tas dan memeriksanya, sementara aku hanya bisa melihat dengan perasaan kalut, sambil berharap semoga tidak ada lagi kekurangan dari hipotesis itu..

Ooyyaa..

Pak Prawiro, selain mengampu Mata Kuliah Ilmu Pakan Dasar, beliau sebenarnya juga menjadi Dosen Pembimbing skripsiku…

Pada awalnya aku sebenarnya malu, tau kan mata kuliah yg aku ulang saat ini belialulah yg mengampu..

“Eehhmmmm”, beliau kelihatannya akan memulai eksekusinya..

“Dion”, “Bapak ingin bersikap profesional saja”.. “Bapak tidak ingin lagi membahas ketidakhadiranmu belakangan ini”, kata beliau..

“Kamu jelas paham”, “Selain mungkin untuk urusan skripsimu, ada beberapa hal yg akhir-akhir ini sedikit menjadi ganjalan buat saya”..

“Kamu masih ingat kan kenapa kamu dulu tidak lulus mata kuliah saya”..

“Paahh…..”

“Stop, jangan di jawab dulu”.. Beliau seperti menarik lidahku..

“Lihat absensi kamu”, “banyak yg kosong, padahal kamu mengulang mata kuliah ini”.. Kata beliau sambil memperlihatkan daftar absensi..

“Iyya Pak, maaf”, “saya mohon Pak, dan mungkin kalau boleh, saya minta saya jangan dikeluarkan dari mata kuliah saat ini”.. Ibaku..

“Haaaahhh” seperti agak berat beliau menarik nafas..

“Okelahh”, “meskipun pada dasarnya tidak boleh, bapak kasih kesempatan terakhir ke kamu”, “jangan sekali lagi absensimu kosong kecuali memang benar-benar ada halangan yg teramat sangat, karena kalau sampai terjadi lagi.. Maaf.. You Must Out From My Class”..

“Terima Kasih Pak”, jawabku agak lega namun masih dengan pandangan agak menunduk..

“It’s Ok.. Selanjutnya saya cuma butuh bukti dari kamu”..

“Namun, sebenarnya ada alasan lain kenapa saya kasih kesempatan lagi buat kamu”..

“Dan sebenarnya salah satu alasan saya mengapa masih memberi kamu kepercayaan adalah karena skripsi kamu ini”,

“Terus terang saja, skripsimu punya kualitas, beberapa tahun belakangan ini kebanyakan mahasiswa bisanya cuma Copy Paste, utak-atik sedikit, jadi”..

“Tapi skripsimu beda”..

“Saya melihat sebuah potensi besar”, “Sebuah potensi yg kalau benar-benar bisa di maksimalkan, tidak akan menutup kemungkinan untuk menjadi salah satu New Brand alias Barang Baru”..

“Iyya Pak”.. Jawabku

“Maka dari itu”..

“Sayak mulai dari awal sangat antusias dengan skripsimu ini”,

“It’s Real Dion, dan Saya tidak mengada-ada apalagi berkhayal”..

“Dari analisis sementara saja, Saya bisa memastikan bahwa mesin dan juga pakan yg bisa di hasilkan dari aplikasi skripsimu nanti, akan banyak membantu para peternak, utamanya dalam efisiensi waktu dan juga biaya pakan”.. Kata beliau di akhir penjelasan

***

Yaaahh..

Memang ku akui, judul skripsiku adalah berkisar tentang Perakitan Mesin Penghalus Dan Pencampur Bahan Makanan Ternak, yang nantinya kalau memang berhasil diwujudkan akan menghasilkan Pakan Ternak Varian Baru dengan Teknologi Pengawetan bernama Silase..

Yang mana, dengan bantuan kedua mesin, dan juga teknik pengawetan di atas, akan dihasilkan Pakan ternak kering yg lebih awet dan tahan lama, karena berbentuk konsentrat kering, namun dengan kadar protein yg lebih, yg diharapkan dapat membantu peternak dalam hal efisiensi waktu, tenaga dan uang…

“Kamu paham maksud Bapak kan, Dion?”,

“Iyya Pak, sy akan berupaya semaksimal mungkin untuk keberhasilan skripsi ini”..

“Bagus, bapak jg sebenarnya berharap lebih dari skripsimu ini, biar ada yg bisa di banggakan oleh fakultas dan juga universitas nantinya”..

“Ya sudah! Kelihatannya sekian dulu pertemuan ini Dion, hipotesismu saya pelajari dulu”, “Ingat janjimu tadi”..

“Iyya Pak”..

Haaahhh.. Akhirnya aku keluar dari ruangan itu dengan perasaan sedikit lega, seperti musafir yg mendapatkan oase di padang pasir.. Setidaknya menjadi sedikit pelipur kegundahanku akan masalah Siti.. Ahhhh.. Kenapa Siti lagi..

“Sudahlah”, “daripada suntuk lagi, kelihatannya pulang ke kost lebih enak, istirahat, sambil mungkin sedikit memberikan Therapy JAV ke Dion Jr”..

***

Akhirnya dengan langkah ringan, aku melanjutkan perjalanan ke kostku tercinta, rumah kost yg sudah menjadi tempat pelabuhanku 2 tahun terakhir, bahkan kadang menjadi pelabuhan Dion Jr kalau lagi Butuh Sangkar Madu..

Hehheeee..

Tak sampai 5 menit dengan menggunakan motor, akupun sampai di kost, buka gerbang depan, masukkan motor, lepas sepatu, cuci kaki, persiapan masuk kamar..

Namun… baru sempat pegang handle pintu, dari kamar sebelah sayup-sayup terdengar sebuah simfoni lembut akan sebuah gairah.. Yg membuat langkahku sedikit terhenti untuk mendengar lebih seksama..

“Oohhh yyeaaaahhh”, “ayyo tekan sayaaaangg”,

“ahh..ahhh..ohhh..ohhh..”.. Terdengar erangan seorang wanita..

“Haahh.. Hahhh.. Haaaa”, “Iyyaaa.. Iyayaaa.. Memekmu ennaakk Sayang.. Jepitannya yaahhh..uuuuddd”.. Timpal si lelaki..

“Ohh yeahhh.. Ohh yeaahhh.. Ohhh yeaaahhh”, “yaaanggg kassshaaaarrrr yank, yaanggg krrrraaassshhh ghheennjjootttnyyaaa”, lanjut siwanita..

“Plaakkk.. Plakkkk.. Plakkk”, terdengar semacam tabokan..

“hiyyyyaaa.. Hiyyyaaa”, “ayyyoo.. Ohhh.. Ohhh..”, “ayyoo sayaannggg.. Tabbbhhoookkk paannthaaattku.. Haaghh.. Hyaahh.. Remmhhaaasss susssuukkuuu” erang si wanita kembali..

“Sepheerrttiii iinnniii haaahhhh”.. “Plakkkk.. Plakkkk”.. Sambung si lelaki sambil kembali terdengar suara tabokan itu..

“Hahhh..hahhh..hahhh..”,” iyyaa.. Iyaaaa.. Iyaaaa.. Hooohh.. Hooohh.. Hoooohhh”, “akkkhhuuu maaauu sssaammphahaiii ssaayyyaaaanggg”.. Kembali terdengar erangan si wanita..

Tiba-tiba..

“Heeeeeghhhh.. Ooooaaaaaghhhh”, “akuuuu nyammmpeeeeegghhhh”.. Terdengar erangan yg entah keenakan ato kesakitan dari si wanita..

Waahh.. Wahh.. Waaahhhh..

Masih siang-siang begini, mana udara jg lumayan gerah juga, masih sempat-sempatnya si Supri melakukan therapy sama pacarnya..

Yaahh.. Simfoni tadi memang aku dengar dari kamarnya Supri, teman satu angkatanku tapi beda fakultas, tapi yaa aku maklum saja, mungkin sudah terlalu kangen sama Erna pacarnya, kan si Erna sMinggu kemarin pulang ke rumahnya, dan malam kemarin malam baru kembali, itupun berita yg tadi malam aku dengar sendiri dari Supri..

Aahhhh.. Mana aku peduli, siaalll, gara-gara simfoni tadi, Dion Jr malah ikutan senewen.. Mana si Siti ndak bisa di hubungi lagi.. Payahh.. Payahhh..

***

Akhirnya.. Daripada malah nambah masalah, dengan pelan-pelan, aku mulai membuka pintu kamarku, melepas semua atribut yg menempel, untuk kemudian mengambil handuk untuk mandi..
Yahhh mudah-mudahan dengan mandi si Dion Jr pun bisa ikutan nyantai.. Setidaknya dia tidak perlu berontak-berontak lagi…
Braaaakkkk.. akhirnya pintu kamar mandi pun tertutup…

***

To be continued