5 Minutes Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 15

“Malam Minggu”​

Mungkin bagi sebagian kalangan memiliki makna yang berlainan.

Para pekerja akan mengatakan “Malam yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga, karena besok adalah Hari Libur”. Masuk Akal.

Para pelajar juga akan berucap “Asyik, besok tidak ada pelajaran, bisa main sepuasnya bareng teman”. Bisa Dipahami.

Para Pejuang Cinta pastinya tak kalah agresif berpendapat “Malam yang pas untuk nge-date bareng pasangan”. Kebanyakan Seperti Itu.

Sampai para Jomblo-pun tak mau kalah mengeluarkan semua Uneg-uneg yang tersimpan “Yahh, ndak ada bedanya dengan malam-malam lainnya, cuma termenung sendiri ditemani nyanyian suara jangkrik dan gigitan nyamuk liar”. Heeemm.. Ironis.. Dan.. Tragis.

Dan untukku sendiri.

Malam minggu berarti semakin dekat pula aku dengan Resolusi Dan Angan.

Bagaimana tidak.

Memang benar aku sudah mendengar semua pengakuan dari Surti, sudah mengetahui sendiri jawaban dari mulut Surti.

Yaahh, meskipun tidak sejelas atau se-frontal muda-mudi jaman sekarang. Ataupun yang sebenarnya suka, cuma untuk trend menjaga Image akhirnya sok Ja-im. “Aku sih sebenarnya juga suka sama kamu, cuma gimana yaaa”, “Gini aja deh, kita jalani dulu aja yaa, sambil dilihat nanti gimana enaknya”.
Padahal jawabannya Simpel Pake Banget.

“Ya, aku juga suka”, atau “Maaf, aku ndak bisa”.

Tapi kadang beda juga sih pemahamannya. Kalau kemarin Surti bilang Tidak Suka ya sudah. Apa aku mau nangis guling-guling ditempat?, atau merengek minta penjelasan kenapa ditolak?. No, It’s Not Me.

Karena dari dulu memang seperti itu. Sama halnya waktu aku bilang suka ke Siti. Pertanyaanku pun sama, dan jawaban yang aku inginkan pun sama seperti yang aku lakukan kemarin ke Surti.

“Ya Mas, Siti juga suka sama Mas Dion”,

Itulah jawaban yang dulu aku terima dari Siti, langkah selanjutnya tinggal kita jalani. Lakukan apa yang memang seharusnya kita lakukan. Namanya Jodoh juga Rahasia Tuhan. Kita hanya tinggal mempertanggungjawabkan pelaksanaannya. Dan kalaupun terjadi sesuatu hal, pasti Tuhan juga akan pelan-pelan menunjukkan jalan-Nya.

Contohnya.

Yaa, Kasus Perselingkuhan Siti Dengan Andre.

Padahal kalau boleh dibilang, aku juga sudah mencoba semua yang biasanya dilakukan para pejuang cinta. Keluar nge-date, intensitas menghubungi dan dihubungi, janji setia, bahkan sampai uhuk-uhuk pun sudah. Kurang apalagi?.

Kurang ajar iyyaa.

Untungnya dulu waktu di kost, aku di KO duluan sama Supri, coba kalau tidak, mungkin aku bisa lebih beringas lagi menghajar si Andre, dan bisa saja setelah aku bosan, teman-temanku juga akan dapat bagiannya.

Yahh, begitulah seperti yang aku bilang tadi. Tuhan juga yang menentukan.

Sampai pada sekarang ini. Apalagi yang bisa kita jelaskan kalau ini memang sudah kehendak Tuhan aku di pertemukan dengan Surti.

Ada yang Aneh atau Ganjil?

Tidak ada sama sekali.

Namun akan menjadi aneh ataupun ganjil kalau aku hanya berdiam diri, hanya mencoba untuk mencerna apa arti jawaban sebenarnya dari pembicaraan Surti kemarin. Karena jawabannya sudah jelas.

Aku Akan Menjadi Milikmu, Dan Kamu Akan Menjadi Milikku

***

Sebulan sudah bisa dikatakan aku menjalin Hubungan Khusus dengan Surti, namun seperti yang memang sudah aku prediksikan sebelumnya, bahwa akan banyak sekali perbedaan signifikan dibanding sebelumnya.

Seperti halnya intensitas tentang “Menghubungi dan Dihubungi, Menanyakan Kabar atau Sekedar Mengabari”.

Tidak pasti juga dalam Sekali-Sehari, atau Sehari-Tiga Kali seperti minum obat resep Dokter, aku dan juga Surti saling memberi atau menanyakan kondisi.

Aneh?

Memang.

Bagi sebagian besar para Pejuang Cinta akan Sangat-sangat Menyiksa.

Ibarat sebuah tanaman yang baru ditanam, pastinya akan setiap saat, bahkan setiap hari akan dirawat, disiram ataupun diberi pupuk supaya dapat tumbuh dengan subur.

Tapi, apa kita juga menyadari kalau ada beberapa jenis tanaman yang kadang kalau intensitas perawatannya terlalu berlebihan malah akan mati kalau kita tidak mengetahui secara benar langkah-langkahnya.

Bagaimana bisa seperti itu?

Beberapa hal wajib kita perhatikan dengan baik dan benar. Bisa dimulai dari waktu menyiram tanaman. “Tahukah kita waktu yang pas untuk menyiram tanaman tersebut?”, atau “Berapa kali dalam sehari sebaiknya tanaman itu kita sirami?”.

Patut di ingat, terlalu banyak air yang kita berikan, tanpa memperhatikan usia dari tanaman, niscaya malah akan membuat akar baru dari tanaman tersebut membusuk.

Begitupun untuk intensitas hubungan.

Bagaimana kita merawat sebuah hubungan yang baru saja terbentuk tentunya akan menjadi tantangan tersendiri. Untukku, dan tentu saja kebanyakan lainnya.

Maka dari itulah, ke-jarangan intensitas saling menghubungi antara aku dengan Surti malah menjadikan hubungan itu semakin berwarna dan variatif. Tidak perlu setiap saat kirim pesan atau menanyakan kabar yang untukku buang-buang waktu.

Coba saja kita tengok.

“Yang, lagi dimana sih?”, “Kok seharian diem aja sih Sayang?”, “Kamu sebenarnya beneran suka ndak sih sama aku?”.

Atau ada lagi.

“Yang, dah makan pa belum?”, “Yang, dah bangun belum?”, “Yang, dah mandi belum?”,

Kenapa ndak sekalian tanya.

“Yang, dah e’e belum?”.

Belum lagi kadang jawaban yang diberikan.

“Ehh sayang, aku mau mandi dulu yaa, emmuuuachh”, “Ehh sayang, aku maem dulu yaa, emmuuuuachh”.

Bahkan ada yang sampai bilang.

“Tiap aku kangen kamu, aku selalu liatin boneka aku yang, soalnya mirip banget deh sama kamu”.

Dan, mau tau boneka apa yang dimaksud?.

Donald Bebek.

Artinya?

Pikir Saja Sendiri.

Namun semuanya akan kembali ke masing-masing untuk melakukan apa yang menurut mereka akan membuat hubungan mereka menjadi lebih baik, menarik dan juga berwarna. Bahkan kalau bisa Langgeng sampai ke jenjang Pernikahan.

Begitu pula cita-citaku dengan Surti, mau bagaimanapun cara kita berhubungan, muara yang kita tuju hanyalah satu. Aku ingin Surti Menjadi Istriku. Simple

Maka dari itulah, perjuanganku akan segera dimulai. Diawali dengan beberapa rangkaian konsultasi akhir skripsi, pencarian bahan baku sebagai penunjang sidang, sampai pada persiapan-persiapan yang wajib untuk dipenuhi dan dilakukan.

***

Ruang Sidang Fakultas Peternakan

Suasana ruangan siang itu nampak sepi, hampir tidak ada aktifitas yang tidak perlu yang harus dilakukan. Semua terlarut dalam suasana yang hampir bisa di katakan campur aduk.

Ada yang dari tadi Komat-kamit membaca Doa, entah Doa apa saja yang dirasa bisa membantu, aku yakin akan dirapal semua.

Ada juga yang saling berpegangan tangan tanda memberi semangat. Entah itu dengan rekan seangkatan atau seperjuangan.

Sedangkan aku.

Mau dibilang tenang juga tidak, mau dibilang gugup juga tidak.

Yakin..

Iyya benar.. Yakin..

Kenapa bisa aku berpikir seperti itu? Bukankah ini menjadi semacam pembacaan vonis untuk kita?.

Baiklah.. sehari sebelumnya aku sudah meminta wangsit dan juga petuah dari Dukun langgananku.

Dukun?

Iyya, memang hal itulah yang sudah lazim aku lakukan, apalagi untuk menghadapi Ujian Akhir seperti ini.

Seperti halnya kemarin yang aku lakukan saat meminta petunjuk ke Dukun saktiku itu.

“Maaf Bu, minta Doa-Nya, besok siang Dion mau Ujian Skripsi”.

Pintaku saat itu.

“Ya sudah, Ibu akan selalu men-Doa-kan semoga semuanya lancar, tidak ada kekurangan atau halangan dalam bentuk apapun”.

Jawabnya kemudian.

Dan hasilnya.

Aku Lulus.

Iyya Benar.. Aku Lulus.

Skripsiku diterima oleh semua penguji saat itu, yaa dengan sedikit perubahan redaksional beberapa kosa-kata. Dan benar juga, seperti yang sudah diprediksi Pak Prawiro sebalumnya. Antusiasme para penguji skripsiku juga besar, karena katanya baru kali ini mereka menemukan skripsi yang bukan hanya skripsi, tapi skripsi yang langsung berujung pada Implementasi.

Sungguh manjur bukan wangsit Dukunku? Yaa.. buatku Doa Seorang Ibu adalah Wangsit paling Mujarab, tanpa terkecuali. Karena apa?, sebagian kalangan banyak yang bilang kalau seorang Ibu itu sama halnya dengan Pengeran Kang Katon atau Tuhan Yang Nampak. Itu buatku, buat yang lain aku tidak paham juga.

Lainnya?.

Tentu saja berondongan semangat dari Surti, yang selama ini sudah banyak memberikan semangat agar aku segera menyelesaikan skripsi ini, dan tentu saja, secepatnya mewujudkan resolusi dan angan yang sudah kita impikan selama ini.

Akhirnya.

Aku benar-benar di sahkan dan dinyatakan Lulus dihadapan Senat Fakultas dan juga Universitas.

Aku Resmi menyandang Gelar Sarjana Peternakan, dan resmi pula namaku menjadi Ngadiono, S.Pt.

Namun, kebahagiaanku tidak berhenti sampai disitu.

Tak berselang lama setelah proses wisuda, aku dipanggil Pak Prawiro, beliau memperkenalkan beberapa teman dan juga koleganya sesama Tenaga Pendidik dan juga Para Pelaku Bisnis.

Hasilnya?.

Hasil implementasi Produk Pakan dari skripsiku rupanya menarik banyak peminat. Sebagian besar beralasan katanya hasil penemuanku merupakan era baru pembuatan Pakan Fermentasi. Karena dengan sistem baru yang berhasil aku kembangkan, para peternak tidak perlu lagi bersusah payah mencari bahan pakan saat musim kemarau tiba, atau kebingungan dengan stock rumput yang banyak mengandung air sehingga menyebabkan banyak ternak yang tidak suka saat musim penghujan melanda.

Semua bisa tertangani dengan baik.

Lebih banyak tenaga yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain juga, karena dengan sistem pakan yang aku buat, kita tidak usah susah ngerit atau mencari rumput, cukup campurkan saja beberapa formula yang aku ciptakan, setelah itu tinggal buat takaran yang pas untuk kemampuan konsumsi masing-masing ternak. Simpel kan, dan itu hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.

***

“Saudara Ngadiono, saya Nikahkan dan Kawinkan saudara dengan Surti Binti Sumijan, dengan mas kawin Seperangkat Alat Sholat serta Perhiasan Emas seberat 5 Gram dibayar Tunai”.

“Saya terima Nikah dan Kawinnya Surti Binti Sumijan dengan mas kawin seperti tersebut di atas. Tunai”.

“Bagaimana Saksi?”, “Sah?”.

“Saaaah?”.​

Inilah mungkin jawaban sakti yang aku tunggu selama ini, kalimat “Sah” yang berarti membuat semuanya menjadi indah dari sebelumnya.

Namun, kata sakti itu jugalah yang pada akhirnya malah menjadi sebuah awalan yang nyata akan tindakan yang mesti dan harus aku pikirkan secara matang sebelum melangkah. Bagaimana tidak, aku yang sebelumnya hanya memikirkan segala tingkah lakuku sendiri, mulai saat ini juga harus memikirkan pasanganku. Aku yang biasanya cuek dengan kondisi, mulai detik ini harus bisa menyetarakan dengan pasangan hidupku.

Hari itu juga semua penantianku akan jodoh bisa dikatakan berakhir, namun awal perjuanganku untuk mengawal jodoh itu. Baru akan dimulai.

Semua tumpah dalam kebahagiaan. Orang tuaku, Orang tua Surti, Keluarga, Saudara, Teman, bahkan Pak Prawiro dan beberapa kolega bisnisnya menyempatkan datang untuk menghadiri Hari Bersejarah itu.

Syukuran sederhana jugaa dilakukan, tentusaja menyesuaikan dengan adat istiadat ditempat Surti. Namun, hal tersebut tidaklah mengurangi Makna Sesungguhnya dari kebahagian ini. Kebahagiaanku. Dan tentu saja. Kebahagiaan Surti.

Bagaimana tidak, aku yang hampir saja terpuruk, hanya dalam sekejap diganti oleh Tuhan dengan kebahagian yang bertubi-tubi.

Aku yang hampir saja melawatkan moment ajakan Supri saat itu, yang bahkan akan berbeda hasil dibandingkan hari ini, tiba-tiba saja terdorong untuk mencoba ikut.

Dan akhirnya moment itu jualah yang membawaku sampai ke hari ini. Sebuah moment sekejap mata yang membawaku ke pencarian jodohku. Sebuah momen yang terjadi dan hanya berjarak Lima Menit.

Jadi, aku juga harus bisa menerima, kalau akhirnya banyak dari keluarga dan juga teman yang mengatakan kalau Pertemuanku dengan Surti hanya dibatasi waktu 5 Menit. Kalau jodohku dan Surti di awali oleh “Jodoh 5 Menit”.

***

Selepas sore semua rangkaian acara memang sudah selesai, semua tamu undangan sudah beralih ke aktifitasnya masing-masing. Termasuk juga kedua orang tua serta sanak saudaraku yang juga telah berpamitan untuk balik ke kampungku lagi.

Dan kini hanya tinggal kami berdua, aku dan juga Surti. Mamak-nya Surti sudah masuk kamar selepas jam 7 tadi. Entah itu karena capek, atau memang ada maksud memberi keleluasaan kepada kami. Who Knows.

Dan karena kondisi kampung yang juga semakin sepi, akhirnya kami putuskan juga untuk beristirahat saja malam ini.

Nervous

Bingung

Salah Tingkah

Semua itu mungkin benar adanya untuk menggambarkan suasana yang sedang kami hadapi saat ini. Bagaimana tidak, setelah tadi pagi secara Sah dan Resmi menurut Agama juga Hukum Per-Undang-undangan yang berlaku di Negara ini. Malam ini secara resmi pula aku akan menjadi penghuni kamar yang semula hanya ditempati oleh Surti.

Selama kurang lebih 5 menit hanya saling berdiam diri dan juga tidak tahu siapa yang mesti memulai, akhirnya memang harus diputuskan biar tidak berlarut kondisi seperti ini.

“Eemm, capek ya?”,

Pancingku membuka obrolan saat itu.

“Eenn, ndak juga Mas, seneng malahan”,

Sambung Surti, namun dengan pandangan yang masih sama sebelumnya, belum berani untuk menatapku.

“Ndak nyangka ya Ti, akhirnya jadi juga kita nikah”,

Ujarku kemudian, sambil kemudian tangan kiriku mencoba memegang dan menggenggam tangan kanan Surti.

Dan benar saja, sama sepertiku. Aku rasa tangan Surti pun sedikit gemetar dan juga berkeringat dingin.

“Iyya Mas”,

Jawab Surti malu-malu, namun kali ini sudah dengan suasana yang agak mencair, bahkan Surti pun sudah berani mengalihkan pandangannya ke arahku.

Dan, sebuah kejadian tak terduga tiba-tiba malah terjadi, tanpa kuduga sebelumnya Surti yang dalam beberapa detik sebelumnya baru berani manghadapku, sekarang malah dengan cepatnya menghambur kedalam pelukanku.

Erat.

Sangat erat malahan.

Kepalanya menempel di dada sebelah kiriku, harum wangi rambutnya bahkan menusuk hidungku.

Wangi.

Seakan berbaur dengan wangi aroma pengharum ruangan bercita rasa Grape yang sengaja aku pasang sore tadi.

Aku biarkan saja dulu dia bertingkah seperti itu, entah apa maksud dan keinginannya aku juga tidak mau tahu. Dan benar saja, setelah beberapa saat, dia menggeser posisi kepalanya menghadapku.

“Makasih ya Mas”,

“Makasih banyak sudah benar-benar mengerti dan memahami keinginan Surti”,

Lanjut Surti pelan.

“Hehee, iyya Ti, Mas juga sama”,

“Mas juga makasih banyak sudah diterima, dan bahkan sekarang sudah resmi jadi pendamping kamu”,

Sambungku kemudian, sambil tangan kananku mencoba mengangkat dagunya, sehingga wajahnya sekarang persis menghadapku. Sementara tangan kiriku mencoba untuk memberikan rasa aman dan nyaman dengan memberikan Sense Of Touch mengikuti alur punggungnya.

Perlahan suasana beku semakin menncair lagi. Bahkan lambat laun malah ber-transformasi menjadi aliran hangat yang menyelubungi tubuh kami.

“Cupp”,

Kuberanikan diri untuk memberi sedikit kecupan perkenalan dibibir mungilnya, yang ditanggapi dengan pejaman mata serta sunggingan senyum tipis serta semburat merah rona pipinya.

“Cuuuphh, eeemmmpphh”,

Aku coba lakukan sekali lagi, namun kali ini dengan jedah yang agak lama, bahkan tidak hanya sekedar ditempel kemudian dilepas seperti tadi, kali ini aku lakukan lebih dalam lagi. Disertai dengan gigitan kecil dibibir dan juga lumatan pelan untuk menambah sensasinya.

“Eeemmmphh, heeeemmppff”,

Geliat badan Surti kurasakan semakin intens saja, bahkan sekarang seakan semakin mendesak, sehingga membuat posisi kami juga berubah, dari semula saling berhadapan, kali ini sudah saling tindih tanpa melepas belitan.

Desah nafas kami saling bersahutan, seakan mulai memanaskan tungku gairah yang baru saja dinyalakan.

“Haaahh, heeeeemmhh, heeeeeemmhh”,

Lumatan kami sejenak terhenti untuk sekedar mengisi kembali udara, dan tentu saja tidak semerta-merta terhenti.

Tangan kananku dengan lincah dan nakal membuka satu persatu kancing baby doll Surti, disertai dengan pandangan mata sayu dari pemiliknya, seakan memberikan ijin agar aku sesegera mungkin menuntaskannya.

“Eeeeeeeemmmpphh, maaasshhh”,

Rengekan manja Surti tiba-tiba lepas, sesaat setelah berhasil meloloskan penutup tubuhnya, mulutku segera mendarat pelan diujung payudaranya. Dengan pelan lidahku mulai menjalankan perannya kali ini.

“Eeempphh, maasshh, eesssttt”,

Semakin nyata rintihan Surti kali ini, menandakan keberhasilan lidahku meng-eksplorasi kedua payudaranya, mencucup, menyedot, serta memberikan hisapan-hisapan di kedua putingnya.

Tangan kananku beralih bergerak ke bawah, menuju ke arah pinggul, sebentar memberikan sentuhan dan usapan lembut di area pinggang rampingnya, untuk kemudian mencoba menggeser penutup terakhir yang melekat dibadannya.

“Aaaaaaakhhh”,

Kali ini bahkan bukan hanya rintihan, namun sebuah teriakan yang keluar dari bibir Surti, tatkala rabaan tanganku berhenti tepat diatas gundukan sucinya. Sambil dengan nakal jariku mencoba memberikan garukan-garukan lembut dicelah memanjang tepat ditengahnya.

“Maassh, eeemmpphh, eeemmmpphh”,

Teriakan, rintihan serta geliat Surti semakin menjadi, sampai aku harus membungkamnya dengan lumatan dan juga belaian tangan kiriku dirambu untuk sedikit menenangkannya.

“Heeemmhh, heeeeemmhh, heeeemmhh”,

Wajah manis Surti semakin memerah, seakan aliran darah berhenti dan terpusat di sana. Maka permintaan ijin dariku untuk segera memasuko dirinya hanya sanggup dibalas dengan anggukan kecil sembari menggigit bibir bawahnya.

“Aaaakkhh, ss-saakiitt”,

Kembali teriakan Surti pecah, namun kali ini kelihatan sedikit ditahannya, hanya cengkraman tangan pada seprei dan gigitan bibir bawah sebagai pelampiasannya.

“Aaaaakkhh, heeeeeeggghhnn, mmmmmfffhh”,

Bahkan kali ini sambil wajahnya dibuang ke arah kiri, sementara dipelupuk matanua nampak butiran air mata.

“Aahh, maafkan Mas kalau sudah membuatmu sakit Ti”, Batinku saat itu.

Namun, seakan mengerti kegelisahanku, tak berselang lama Surti kembali mengangguk seakan memberi tanda.

“Eeeeahhh, heeempphh, heeeeggh, heeeeeghhh”,

Rintihan, erangan, hembusan bahkan dengusan nafas silih berganti terdengar, seiring tusukan serta genjotanku memasuki tubuh Surti.

“Slleeepphh, sslleeeeepphh, sslleeeepphh”,

“Eeemmpphh, eeeeemmpphh, eeempphh”,

“Heeeghh, heeeeghh, heeeeegghh”.

Silih berganti kami saling merintih dan mengerang, saling meresapi dan merasakan indahnya Surga Dunia yang sedang kami arungi.

“Heeeeeeeeeghhh, heeeemmmpp, haaaaahhh”,

Sampai pada akhirnya kami sama-sama terdampar ditepiannya, rasa nikmat yang kami rasakan sangat tidak terkira. Sungguh, tidak ada Kenikmatan dan Keindahan yang mampu melukiskan apa yang baru saja kami alami.

***

“Ayyo Mas, jadi berangkat ndak?”, “Kok malah bengong lagi”.

Kembali Surti sukses mengagetkan aku.

“Ayolah, biar pulangnya nanti ndak kesiangan juga”.

Jawabku kemudian, sambil mengeluarkan BMW Seri 70(1) kesayanganku.

Maka, setelah kurasa cukup siap untuk jalan, aku persilahkan pula Surti untuk segera nangkring cantik diboncengannya. Dan tentu saja, dengan rangkulan erat tangan kanannya diperutku, pelan-pelan mulai kujalankan kendaraanku, berjalan pelan sambil menikmati hembusan sejuk angin pedesaan, serta saling tegur dan sapa dengan penduduk selama diperjalanan.

Semoga suasana seperti ini akan terus kami rasakan, sebuah suasana Damai, Indah dan Tenang sebagai Buah Perjuangan. Semoga 5 Menit yang mempertemukan kami, menjadi 5 Menit yang akan selalu Menjaga Dion dan juga Surti.

~End Of Stories~