5 Minutes Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 14

Beautiful girl, wherever you are
I knew when I saw you,
You had opened the door
I knew that I’d love again after a long, long while
I’d love again.

You said “Hello” and I turned to go
But something in your eyes left my heart beating so
I just knew that I’d love again after a long, long while
I’d love again.

It was destiny’s game
For when love finally came on
I rushed in line only to find
That you were gone.

Whenever you are, I fear that I might
Have lost you forever like a song in the night
Now that I’ve loved again after a long, long while
I’ve loved again

~Jose Mari Chan – Beautiful Girl~‚Äč

Betapa Indah Hari Ini

Mungkin bisa dibilang kalimat itulah yang sanggup mewakili perasaan hatiku pagi ini.

Bagaimana tidak.

Mandi pagi sudah, Washing-washing alias nyuci-nyuci sudah, rokok ada, segelas kopi kiriman warung depan, meskipun akhirnya juga harus mengeluarkan mahar 3 golok Pattimura. Juga siap sedia.

Ditambah alunan suara Jose Mari Chan dengan Beautiful Girl(1)-nya, yang mengalun syahdu dari speaker laptop bututku, seakan semakin melengkapi indahnya suasana saat itu.

Namun sebenarnya semua hal ini tidaklah akan berlaku, jika saja tidak ada peristiwa bersejarah yang kemarin malam terjadi.

Dion
Malam Ti, Mas Dion ini..
Gimana kabarnya??

Surti
Malam juga Mas, baik kabarnya..
Mas sendiri pripun kabare??

Dion
Sama Ti, baik.. sangat baik malah..
Oiyya Ti, kalau boleh.. kalau boleh lho yaa.. eemm.. Mas main ke tempatmu boleh ndak??

Surti
Nggeh Monggo toh Mas, yo ndak apa-apa, main saja ke sini. mosok orang mau main kok ndak boleh toh Mas.

Dion
Oo ya sudah Ti, Besok Mas tak langsung kesana..

Surti
Ehhh.. lha Mas Dion apa sudah tau tempatku toh? Kok langsung meluncur?

Dion
Oalahh iyya, kan belum pernah d kasih tau yaa.. Hehehee.. maklum Ti, saking senengnya

Surti
Hehehee.. ya sudah.. ini alamate.. Jl. xxx, No. xx, Gang. xxx, Nomor Rumah. xxx.. dah lengkap toh Mas, ndak ada yang kurang toh??

Dion
Sudah Ti, lengkap buanget malahan.. yawes, Mas tak istirahat dulu buat persiapan besok. Kamu juga istirahat ya Ti

Surti
Oo nggeh Mas

Sedikit percakapan semalam yang meskipun hanya lewat tulisan pesan singkat itulah yang menjadi pewarna hari ini. Hari dimana aku akan memulai perjalanan lain memintal Garis Takdir.

Maka, sejak semalam aku sudah menyiapkan semua, mulai dari menyiapkan fisik dan mental, sampai dengan minta petunjuk tentang Surti ke Supri, karena seperti yang sudah kupahami, dialah Bridge Of Destiny, jembatan nasib yang mungkin akan bisa menghubungkan kelanjutanku dengan Surti.

Aku Harus Siap..

Apapun Yang Terjadi..

Aku Harus Siap..

So..

Wait For Me..

My Beautiful Girl

***

Dengan perasaan damai dan tenang, kupacu pelan motorku menuyusuri keramaian jalan siang itu. Ndak perlu ngebut juga, yang penting sampai ke tujuan. Alon-alon Waton Kelakon. Pelan-pelan saja, yang penting sampai ke tujuan.

Walhasil, setelah hampir satu setengah jam bergelut dengan penat dan panasnya udara jalan, akhirnya aku sampai di rumah PakDhe-nya Surti.

Heeemm.. Nampak asri juga untuk lingkungan perumahan yang dikepung banyaknya jalan Protokol maupun By Pass. Batinku.

Rumah yang tergolong agak besar meskipun tidak bisa dikategorikan mewah, dengan pagar setinggi daguku, nampak sekilas taman kecil dengan ragam bunga dan tanaman perdu lainnya. Nampak juga beberapa pohon mangga dan rambutan, semakin menambah suasana adem dan asri.

“Ting.. Tong..”

Segera saja kutekan bel yang ada di samping kanan pagar, tak berselang lama, nampak seseorang wanita keluar dengan agak tergopoh.

“Cari siapa ya Mas?”,
Tanyanya kemudian.

“Maaf Bu, apa bener ini rumahnya Pak Martono?”,
Tanyaku antusias.

“Iya betul, Masnya siapa?”, “Kalau boleh tau, ada keperluan apa sama Bapak?”,
Lanjutnya dengan beberapa pertanyaan.

“Eeemm, saya Dion Bu, temannya Supri yang dari Desa xxx”, “Dan maaf, saya ke sini mau ketemu sama Surti”.
Jawabku kemudian, dengan beberapa tambahan alasan kedatanganku tentunya.

“Ooo, Mas Dion toh”, “Sudah ditunggu sama mbak Surti-nya”, “Kalau Bapak sama Ibu barusan keluar, mungkin agak sorean nanti datangnya”,
Jawabnya kemudian sambil membuka pintu gerbang.

“Monggo ditunggu sebentar, tak panggilkan mbak Surti-nya dulu”,
Lanjutnya sesaat sebelum masuk keda!am rumah.

Aku menunggu diberanda samping rumah, duduk dikursi sebuah taman kecil yang dikelilingi pohon mangga. Heeem, cukup adem juga, sedikit mengikis keringat yang nampak berbulir akibat kegerahan selama perjalanan tadi.

Sampai kemudian.

“Eehmm, kelihatannya kok santai bener Mas-nya”,
Sebuah sapaan lembut nan ramah mengagetkan aku dari sejuknya buaian semilir angin.

“Ya tuhaaan, sungguh indah makhluk ciptaan-Mu ini”,
Batinku sesaat setelah mengetahui siapa gerangan yang menyapaku tadi.

Dengan daster bercorak batik berlengan pendek, yang menjuntai indah sedikit dibawah lutut. Kurasa cukup elegan dipandang saat itu, dengan seulas senyum tipis yang tersimpul indah dibibir, yang menghiasi wajah ayu tanpa polesan make-up warna-warni, serta tatapan teduh yang terpancar dari binar mata yang agak sipit. Sempurnalah penampilan bidadari yang satu ini.

“Plaakk”, “Adduuhh”,
Sakit.. dan kurasa.. aku tidak bermimpi saat ini.

“Lhoo, kenapa toh Mas?”, “Kok pipinya ditabok sendiri”,

“Oalahh Surti, Surti”, “Kalau ndak segera ditabok biar sadar, bisa-bisa Mas Dion pingsan betulan tadi”, Batinku saat itu.

“Eehh, ndak, itu, itu”,
Lahh, kenapa jadi gugup sendiri seperti ini. Guman batinku kemudian.

“Tadi ada nyamuk, jadi kalau ndak segera diusir, kan sakit kalo nggigit”,
Jawabku serampangan karena ketidak mampuanku mengolah situasi saat itu.

“Oooo”,
Jawab Surti kemudian. Untuk selanjutnya dengan gemulainya mengambil duduk dikursi sebelah kiriku.

“Gimana tadi sampai kesini?”, “Nyasar ndak?”,
Tanya Surti kemudian.

“Ya ndak lah Ti, mas kan juga sudah lama tinggal di Kota ini”,

“Dulu sering juga diajak jalan-jalan sama Supri, keliling-keliling”,

“Cuma kan sekarang dia ada Erna, jadi sudah jarang lagi”,

Jawabku panjang lebar, yang entah sebenarnya dibutuhkan oleh Surti atau tidak, karena mengingat pertanyaannya tadi yang cukup sederhana.

Kan sebenarnya cukup dijawab “Oo ndak, tadi ndak kesasar”, atau “Oiyya, tadi sempat muter-muter di Aloon-aloon Kota, habis itu beli Bakso dulu soalnya lapar, kemudian istirahat sebentar di Masjid Raya, baru setelah itu meluncur ke sini”. Klise.

Tapi tidak apalah, sedikit banyak bisa mengurangi kadar grogi dalam dada.

“Oiyya Ti, katanya tadi Pak Dhe sama Bu Dhe lagi keluar ya?”,
Tanyaku kemudian.

“Iyya Mas, katanya sih mau beli kain buat bahan jahitan, sekalian katanya mau Nyambangi Mbak Rita”,
Jawab Surti.

Ooiyya. Surti memang diminta untuk ikut membantu Pak Dhe-nya, karena di kota ini beliau membuka bisnis konveksi, dan ternyata juga termasuk ramai. Dan yang dimaksud Surti dengan Mbak Rita tadi adalah Putrinya, yang saat ini juga sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi di Kota Sebelah.

“Monggo, sambil diminum kopinya Mas, mumpung masih hangat”,
Tawar Surti kemudian.

“Oiyya Ti, dan maaf Ti sebelumnya kalau Mas sudah lancang dulu ngomong begitu sama kamu”,
Lanjutku sesaat setelah meletakkan cangkir kopi dimeja.

“Eemm, gimana Mas ya, Surti kaget juga sih sebenarnya”,

“Lha wong ndak ada angin, ndak ada hujan, ndak ada firasat apapun juga, kok tiba-tiba Mas ngomong gitu ke Surti”,

“Padahal, kenal sebelumya juga ndak, ketemu juga baru berapa hari, kok ya nekat ngomong gitu”,
Jawab Surti sembari memberikan sedikit detail penjelasan akan perubahan sikapnya yang dulu waktu sesaat setelah aku ngomong suka sama dia.

Memang, lagian aku juga sebenarnya yang ngawur, ketemu baru berapa hari, ngobrol jarang. Kalau memandang sih sering walau konteksnya curi-curi, lhaa kok nekat bilang suka.

Tapi mau bagaimana lagi, seperti banyak alasan yang sudah aku kemukakan waktu di introgasi sama Supri kemarin, aku sendiri bingung dengan perasaanku waktu itu. Tapi satu hal yang akhirnya membuat aku berani dan nekat ngomong suka ke Surti. Sepertinya Hatiku Memilih Surti. Hanya itu, Simply Like That, tidak ada alasan pelarian, aji mumpung atau apalah namanya.

“Karena itu juga Mas, setelah Surti pendam selama beberapa hari, akhirnya Surti bilang ke Mas Pri”, “Surti ceritakan semua ke Mas Pri apa yang Mas Dion bilang”,

“Tapi jujur Mas, terus terang perasaan Surti juga ndak enak”,

“Ndak enaknya bukan karena Surti takut atau apa”,

“Surti juga bingung, sebenarnya banyak juga yang bilang seperti itu sebelumnya ke Surti”, “Tapi Surti biasa saja, seperti ndak terjadi apa-apa gitu”,

“Tapi waktu kemarin Mas Dion yang bilang gitu, beda Mas, beneran beda, yaa meskipun awalnya kaget juga sebenarnya”,

Lanjut Surti seperti tanpa jeda, seperti ingin mengeluarkan semua uneg-uneg yang tersimpan dikepala.

Satu persatu apa yang Surti jelaskan coba aku dengar, cerna dan pahami dengan baik, seperti yang sebelumnya dipesan Supri kepadaku, saat ini mungkin aku bisa dikagakan banyak hanya sebagai pendengar, sambil sesekali menyumbang omongan untuk menyeimbangkan suasana saja.

Dan satu diantara sekian banyak kesimpulan yang bisa aku tarik, dan sekali lagi seperti apa yang dikatakan Supri sebelumnya. Hatinya Surti Juga Memilihku.

“Eemm, terus jawabannya kira-kira gimana Ti?”,
Tanyaku langsung To The Point.

“Yaahh, tak pikir Mas Dion juga sudah pinter, Mas Pri mungkin juga sudah ngomong semua”,

“Kalau mau jujur ya Surti sebenarnya juga suka sama Mas Dion”,

“Cuma mau gimana?”, “Surti belum pernah seperti ini sebelumnya”, “Apa itu pacaran Surti juga belum pernah”, “Surti taunya cuma kerja, cari uang buat bantu Mamak”,

“Jadi Surti mohon sama Mas Dion”, “Meskipun Surti juga suka, Mas Dion bisa paham kondisi Surti”,

“Jadi kalau Mas Dion beneran suka sama Surti, Mas Dion buktikan kalau Mas Dion itu benar-benar seperti harapan Surti”,
Kembali penjelasan meluncur dari mulut Surti, seakan menambah ketegasan dari apa yang sebelumnya telah dia bicarakan.

Dan sekali lagi..

Dan memang sepenuhnya benar apa yang sudah di bilang Supri..

Surti memang berbeda..

Dan kalimat terakhir tadi yang benar-benar semakin membuatku merasa yakin dan tertantang untuk membuktikan bahwa aku adalah orang yang diharapkan oleh Surti.

“Ya sudah Ti, sepertinya sudah lama juga kita ngobrolnya, sampai habis kopinya ndak terasa”,

“Sekalian Mas mau pamit, ndak enak sama Supri sendirian di kost”,

Ucapku mungkin untuk yang terakhir kali di pertemuan itu. Sekalian meminta ijin untuk kembali lagi ke kost.

“Ooo nggeh Mas”, “Mas Dion hati-hati, pelan saja, ndak usah ngebut”,

“Cuuupp”,
Jawab Surti kemudian. Dan tentu saja, kejadian terakhir inilah yang sepertinya membuat keteguhan niatku untuk menjadikan Surti pelabuhan hati semakin menebal.

Karena tanpa kurencanakan, dan memang dalam waktu seper-sekian detik, saat pamit pulang tadi, Surti mencium punggung tanganku.

Yaa Tuhan..

Aku memang Tidak Akan Pernah Tahu, Apa Dan Bagaimana Kehendak-Mu”, “Namun Kalau Memang Perempuan Ini Adalah Yang Terbaik, Jadikanlah Dia Untukku.

Mungkin hanya itulah sekelumit Do’a yang bisa aku panjatkan saat itu, sesaat sebelum aku pulang dengan diantar lambaian tangan serta senyum manis Surti.

Yaa.. Her Name’ Surti.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat