5 Minutes Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 13

Sepulang dari tempat Supri, hal pertama yang aku lakukan adalah menyentuh kembali Skripsiku, Kekasih Hatiku, Seonggok atau Sebendel atau se-apalah namanya terserah hasil pemikiran Agak Jenius seorang Dion, yang sampai membuat seorang Prawiro begitu antusias dengan hasil akhirnya.

Menata kembali bendelnya yang sempat aku tinggal Pating Slengkrah begitu saja, melihat seberapa banyak karya coretan revisinya, dan tentu saja secepat mungkin menggantinya dengan kalimat-kalimat baru yang sesuai dengan kebutuhan.

Di samping itu, aku seperti menemukan kembali mata rantai semangat yang pernah dipatahkan secara sepihak oleh Siti, yang bahkan sempat hampir menjerumuskan aku kembali ke dasar titik jenuh. Namun, sebuah oleh-oleh yang aku dapat dari tempat Supri lambat laun memutar kembali roda semangat, mengerek untaian tali yang sebelumnya menengelamkan jasadku di bawah, perlahan naik sedikit demi sedikit sampai tiba dipermukaan.

Surti..

She’s Like Cocain, dan memang hanya itulah namanya, tanpa embel-embel lain, tanpa alias binti nama cadangan atau nama panggung seperti yang sekarang sedang tenar digunakan oleh para artis pendatang baru guna mengangkat pamor, waktu ditanya media ngaku namanya Rossa Amalia, padahal aslinya Rusmini, asli dari Desa, makannya Gaplek, tapi ngomongnya “elo”,”gwe”,”Helloooww”. WaDePak.

Namun entahlah, sebuah nama dengan 5 huruf itulah yang sukses menghantuiku. Memang dia seperti candu, seakan anak panah Cupid langsung diberondongkan tanpa jedah ke hatiku. Nama itu hampir setiap hari bernyanyi riang mengitari kepalaku, meniupkan simfoni kesejukan, memompa kembali Piston semangat yang pernah macet, membuat darah kembali mengalir, sehingga otak kembali bisa di ajak untuk berfikir.

Bimbingan demi bimbingan, Revisi demi revisi hilir mudik mengitari aktifitasku saat ini, Pak Prawiro begitu intens dan disiplin seperti menyiapkan semuanya untukku, bahan yang kurang dipenuhi, referensi dilengkapi, sampai aku sendiri kadang merasa Rikuh Lan Pakewuh sama beliaunya, namun dengan kebapakan beliau selalu memotivasi agar aku secepatnya menyelesaikan skripsi ini.

Dan sepantasnyalah, untuk membalas semua kebaikan beliau dan juga lainnya, akan kubuktikan bahwa aku bisa, aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang kondisiku pasca kejadian terakhir di tempat kost Siti.

***

Gedung Dekanat Fakultas Peternakan

Hari ini aku kembali memulai aktifitas bimbingan, setelah sempat mandheg karena aktifitas akademis Pak Prawiro di Luar Negeri.

“Heemm, bagus”,”Memang seperti inilah yang saya maksudkan Dion”.

Itulah kalimat pertama dari bimbingan yang bisa dikatakan pertama juga, yang pasti setelah beliau kembali. Setelah membolak-balik lembar demi lembar, mengkoreksi huruf, kata, sampai dengan kalimat, akhirnya beliau mendapatkan sebuah kesimpulan atas apa yang diterangkan dalam bendelan tersebut.

“Hanya tinggal sedikit merevisi redaksional beberapa tata kalimat saja, seterusnya saya tidak melihat ada hal serius yang berhubungan dengan hipotesis”.

“Dalam seminggu kedepan, saya minta semua sudah kamu siapkan, terbendel rapi serta kamu copy sebanyak 5 bendel. Dan tentunya, setelah itu saya berani untuk merekomendasikan kamu bisa mengikuti Sidang”.

“Bagaimana?”,”Kamu sanggup?”.

“Siap Pak”.

Dengan mantap dan tanpa basa-basi aku iyyakan semua permintaan beliau, karena mau dibilang apapun juga, inilah tujuan akhirku selama ini. Apalagi setelah mendengar kata Sidang tadi, semakin mantaplah keyakinan serta kepercayaan diriku.

Akhirnya..

Setelah sekian lama, sekian waktu, serta sekian banyak masalah, aku sampai pada titik akhir, meskipun belum bisa dikatakan Finish.

Perasaanku..

Setelah keluar dari Kantor Fakultas jangan ditanya lagi, meskipun sepanjang jalan banyak yang memperhatikan sedikit keanehan pada diriku. Bagaimana tidak, tas yang biasanya nemplok di punggung, saat itu aku rangkul dan dekap erat di dada, karena aku berfikir didalamnya ada sebuah harta karun yang tak ternilai, sebuah Pintu Nasib yang kupercaya akan membawa sebuah perubahan yang sangat berarti untukku dan masa depanku.

***

Setelah beberapa saat menghabiskan waktu di kampus, kuputuskan saja untuk balik ke kost. Karena aku pikir, lebih cepat aku selesaikan beberapa koreksi dari Pak Prawiro tadi, semakin cepat pula masalahku akan selesai.

“Halo Mas Dion, gimana kabarnya?”,

Sesaat sebelum aku membuka pintu kamar, terdengar sapaan dari kamar sebelah.

“Heeemm, bikin kaget saja kamu Er”, “Iyya, baru saja selesai bimbingan akhir sama Pak Prawiro”.

Jawabku kemudian setelah tahu yang menyapa tadi adalah Erna, sembari berbasa-basi sebelum akhirnya dia pamit keluar di ikuti Supri.

Namun..

“Ehh Di, kamu ndak ada acara kan setelah ini?”.
Tiba-tiba Supri bertanya, sesaat setelah sampai didepan kamarku. Namun kali ini aku melihat sedikit nada serius dari logat bicaranya.

“Ndak ada sih Pri, cuma mau revisi skripsi saja, biar cepat selesai”.
Jawabku kemudian, sambil mengatakan kalau aku memang tidak ada rencana kemana-mana lagi setelah ini.

“Yowes, aku tak ngantar Erna dulu, habis itu aku mau sedikit ngomong-ngomong sama kamu”.
Lanjut Supri kemudian.

Dan benar saja.

Entah ada apa gerangan, tidak biasanya Supri seperti itu, kalau mau ngomong ya langsung ngomong saja. Tapi kali ini lain.

Ahh..

Whatever lah..

Kuputuskan mandi saja setelah itu, gerah juga setelah dari kampus tadi, sekalian menunggu Supri tentunya.

***

2 Jam Kemudian

Sesuai dengan yang dijanjikan tadi, saat ini aku sedang duduk bersama Supri dikamar, saling berhadapan dengan posisi sama-sama lesehan diatas karpet.

“Aku mau tanya satu hal Di, dan tolong kamu jawab dengan jujur”,

Akhirnya keluarlah pertanyaan pertama dari Supri di siang itu.

“Iyya Pri, monggo, aku akan jawab dengan sebenar-benarnya”,

Jawabku kemudian.

Sebelum Supri datang tadi, aku sebenarnya sempat sedikit berfikir.

“Apakah hal yang ingin dibicarakan Supri berhubungan dengan Surti?”,

Karena jelas tanpa harus diterangi lampu lagi, selama ini aku dan Supri itu sudah seperti saudara, jarang ada masalah, dan kalaupun ada, tidak pernah aku menemukan logat bicara seperti yang ditunjukkan Supri tadi.

“Apa maksudnya kamu bicara suka sama Surti waktu ditempatku kemarin?”.

Naahh..

Terbukti kan??

“Huufftt”, “Yaahh, ada baiknya kamu memang secepatnya harus tahu tentang hal ini Pri”, “Dan aku minta kamu dengarkan baik-baik sampai tuntas, jangan di potong ditengah”, “Huuufftt”,

Dengan menata nafas, dan diawali hembusan asap rokok aku mulai mencoba menjawab pertanyaan Supri.

“Memang terdengar konyol Pri, atau mungkin ngawur, tapi mau bagaimana juga, memang seperti itu adanya”,

“Aku juga heran, jujur…. aku sendiri heran”,

“Kenal juga baru sekelebatan mata, bicara atau ngobrol juga jarang, tapi kenapa aku bisa bilang begitu ke Surti”.

“Maksudmu Di?”, Sela Supri.

“Terus terang aku seperti menemukan kembali semangat setelah mengenal Surti, semangat yang sempat akan hilang selepas kejadian di kostan Siti waktu itu”.

“Aku menemukan keteduhan Pri, perasaan damai dan sejuk waktu memandang Surti meskipun secara sembunyi-sembunyi”,

“Sebelunya aku juga sempat berfikir, apakah ini hanya nafsu sesaat saja?, hanya pelampiasan semata?”,

“Tapi nyatanya tidak Pri”, “Aku merasakan banyak yang berbeda kali ini”,

“Dan yang jelas, entah mau dibilang apapun juga, sepertinya Hatiku memilih Surti”.

Begitulah…

Panjang lebar bahkan juga tinggi aku menjelaskan kepada Supri, aku ceritakan semuanya secara jelas, gamblang dan tanpa Tedheng Aling-aling(5).

Entah Supri mau menganggap itu hanya bualanku saja atau mau menganggap serius aku sudah siap, karena bebanku sedikit agak terkurangi juga. Kalau misal dia percaya terus setuju aku mendekati Surti ya Monggo, namun kalau misalnya dia kurang sreg dengan omonganku tadi dan menganggap cuma selayang pandang saja kemudian memberikan keberatan, aku juga Monggo.

“Satu hal saja yang perlu kamu ingat dan ketahui Di”,

“Surti itu sudah seperti Adikku sendiri, senangnya dia aku juga senang, begitupun sebaliknya”,

“Dan aku juga paham, sangat paham sifatmu itu seperti apa”,

Tak berselang, rentetan penjelasan mulai diberondongkan juga oleh Supri, seolah ingin memberikan uraian dari penjelasanku tadi.

“Surti sudah ngomong sama aku keesokan harinya setelah kamu antar itu”, “Dia cerita semua apa yang kamu katakan ke dia waktu itu”, “Dan terus terang, aku juga sempat marah dan tidak terima”,

“Tapi penjelasan berikutnya dari Surti membuatku bingung sendiri”, “Waktu aku bilang mau marah sama kamu, dia dengan tegas melarang, bahkan sampai nangis-nangis”, “Dan anehnya lagi, dia bilang persis sama seperti apa yang kamu bilang tadi, Hatinya juga Memilih kamu Di”.

Lanjut Supri kemudian. Dan, yang paling membuatku kaget dan tidak habis pikir adalah kalimatnya yang terakhir tadi.

Hatinya Surti Juga Memilihku.

“Jadi Pri?”,

Maksudku ingin bertanya lagi ke Supri, namun dia memintaku untuk tidak melakukannya dulu.

“Aku tidak kasih kamu ijin Di, karena kalian sudah sama-sama dewasa”,

“Cuma ada beberapa hal yang harus kamu catat benar-benar dalam benak, otak dan hatimu”,

“Surti itu Gadis Desa, dia benar-benar lugu, pergaulannya terbatas, bahkan walau kerja ditempat PakDhenya pun dia jarang keluar”,

“Dia tidak butuh janji dan bualan, dia tidak butuh kata-kata romantis atau gombalan, dia tidak butuh”,

“Yang dia butuhkan cuma Keseriusan Dan Kesetiaan”.

Benar-benar komplit apa yang diutarakan Supri tentang Surti kali ini, tentang sosoknya yang Ndeso dam Kurang Gaul namun memiliki ciri khas.

Haaahhh.. entahlah.. makin Fall In Love saja sepertinya aku..

“Makasih banyak Pri atas semuanya, aku paham apa yang mungkin harus aku lakukan setelah ini”,

Sambungku kemudian setelah terlihat Supri selesai dengan tausiahnya.

“Aku akan berupaya semampuku, dan aku juga akan minta tolong ke kamu seandainya ada yang aku kurang mengerti, utamanya untuk masalah Surti ini”.

“Heemm”,

Dan sebuah isyarat singkat disertai dengan acungan jari jempol dari Supri mengakhiri sesi tausiah siang itu. Dan tentu saja, setelah ini giliranku untuk membuktikan omonganku tadi. Membuktikan kalau Hatiku dan Hatinya Surti benar-benar saling memilih.

***

Syair Dan Melody,
Kau Bagai Aroma Penghapus Pilu,
Gelora Di Hati,
Bak Mentari Kau Sejukkan Hatiku.

Burung-burung pun bernyanyi.
Bungapun Tersenyum,
Melihat Kau Hibur Hatiku.

Hatiku Mekar Kembali,
Terhibur Simphony,
Pasti Hidupku Kan Bahagia

~Once – Simphony Yang Indah~

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat