5 Minutes Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 12 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 11

~ The Sun Is Rising ~
(Road To Romantika Dion dan Surti)
I

Oiyyaa katanya kamu mau jemput dia di jalan besar pagi tadi? , itulah pertanyaan yang meluncur dari mulutku di siang itu saat sedang asyik berbincang di sebelah rumah Supri,

Heheheheee.. Aku hari itu terbangun agak siang, mungkin karena kondisi badanku yang masih agak lemas, jadinya yaa, keenakan tidurnya, apalagi ditambah sejuknya suasana sekitar rumah Supri yang masih asri,

Sudahh Di, lha dia sudah bantu-bantu dibelakang juga dari tadi , jawab Supri kemudian,

Memang biasanya minta tolong dijemputnya sama kamu ya Pri ?,

Iyyaa Di , kalau misal aku ada dirumah, kalau tidak biasanya siapa gitu yang bisa,

Yaahh, kalau boleh dibilang sihh sudah seperti Adikku sendiri dia itu, apalagi aku juga ndak punya Adik perempuan khaan , tapi kalau dipikir lagi, sebenarnya aku juga kasihan sama Surti itu ,

Heeeemm, kasihan kenapa Pri ?, tanyaku kemudian setelah meminum kopi susu ku dan meletakkannya di meja kemudian,

Surti itu sebenarnya Pintar, Baik, pokoknya ndak neko-neko kalau orang jawa bilang , 2 tahun kemarin dia itu lulus SMA Di, rencananya sihh, pengen melanjutkan ke sekolah Kebidanan, yaaahh nanti sambil sedikit di bantu sama Bapak sama Ibu’ , lanjut Supri kemudian,

Namun, tidak lama setelah Surti Lulus, ternyata Tuhan berencana lain Di, Pak Sumijan, Bapaknya Surti, tiba-tiba sakit keras, sampai akhirnya meninggal

Akhirnya yaaa, Gagal cita-citanya sekolah lagi di Kebidanan, padahal dulu dari kecil, Surti itu sering bilang ke aku ingin sekali jadi Dokter atau Bidan, tapi yaaa itulah Di, cita-cita tinggal cita-cita saja ,

Sebenarnya Bapak sama Ibu’ siap-siap saja membiayai semuanya , yaahh hitung-hitung balas budi lahh atas kesetiaan kedua orang tua Surti ke keluarga ini, Bapaknya Surti itu salah satu orang kepercayaan Bapak dalam pengurusan ternak, sedangkan Ibu nya, seperti yang aku sudah bilang tadi, dari awal Ibu’ buka kios di pasar, yang jaga ya Ibu nya Surti , cerita Supri kemudian panjang lebar,

Truss, kenapa ndak di biayai saja sama Bapak Ibu mu ?, tanyaku kemudian,

Itulah Bi’ Sumarni Di , beliau itu orang yang jujur lah istilahnya, tahu terima kasih kalau Ibu ku bilang , kata Ibu sihh, meskipun sudah dibujuk berkali-kali, jawabannya tetap sama, katanya beliau sudah banyak merepotkan keluargaku, dari awal Surti lahir sudah banyak di bantu, bahkan sampai di terima kerja dikeluarga ini , jadi akhirnya yaa cukuplah selama ini merepotkan, dan intinya ndak mau lagi merepotkan sampai terlalu jauh membiayai sekolahnya Surti, cukup sampai SMA saja, lagi pula masih ada Adiknya yang butuh biaya , jelas Supri kemudian,

Trus akhirnya dia cari kerja ikut Pamannya gitu tahh?Selaku kemudian,

Yaaa seperti itulah Pri , walaupun sebenarnya Ibu juga nawari biar Surti ikut kerja jaga kios saja di pasar, tapi lagi-lagi jawabannya Bi’ Sumarni sama seperti tadi, akhirnya ikutlah dia kerja sama pamannya di kota , imbuhnya kemudian,

Haduuuuhh , minta rokokmu Pri, habis punyaku , kataku tiba-tiba setelah menyadari rokok ku hanya tinggal bungkusnya saja, namun ternyata kepunyaan Supri juga habis,

Bentar Di, tak minta tolong dibelikan dulu , jawab Supri kemudian,

Surtiii.. Surtiiii, kesini sebentar Sur , ternyata Supri memanggil Surti untuk minta tolong dibelikan rokok,

Iyya Mas Pri, ada apa ?, tiba-tiba persis dari arah belakangku terdengar suara seorang wanita,

Ini, tolong kamu ke Toko depan, belikan aku Rokok, sekalian Rokok punya temanku ini ,

Oiyyaa, ini yang namanya Surti, Di , jawab Supri sambil menyerahkan uang dan juga mengenalkan kepadaku sosok Surti,

Hehehee, iyya Mas, saya Surti , jawabnya sambil tersenyum,

I-iyaa.. Hehehee.. S-saya Dion , jawabku spontan agak tergagap sambil tersenyum kemudian mengulurkan tangan berkenalan,

Hehh, sudah, nanti saja kenalannya , Rokoknya yang seperti ini ya Sur, yang ini 2, ini juga 2 , aku juga mau ke kamar mandi ini , jawab Supri kemudian seolah menyadarkanku dari pemandangan indah yang saat ini ada didepan mata,

Akhirnya, berangkatlah Surti untuk beli rokok di Toko, dari awal jabat tangan kenalan tadi, sampai sepanjang dia berjalan, tak henti-hentinya mata nakalku memperhatikan setiap gerakannya,

Heheheee.. Mumpung Supri juga tidak akan sodara-sodaraaa..

Heeemm.. Muka Oval, Mata Agak Sipit, Hidung juga Agak Mancung, dan Tatapan Matanya.. Yaaaa, tatapan mata yang memancarkan sebuah keteduhan,

Ditunjang dengan tinggi semampai, bokong yang aduhai, serta tonjolan depan yang aduhai pula,

Hallaaahhh.. Apalah aku ini, malah kurang ajar mikir seperti ke Surti , gumamku kemudian,

Tapi kenapa aku juga tidak memungkiri akan hal tersebut, kenapa aku tiba-tiba saja berpikir seperti itu ke Surti?

Bukankah aku juga pernah mempunyai getaran seperti ini sebelumnya ketika bersama Siti,

Adduuuhh, kenapa Iblis Betina itu laggiiii gumamku lagi setelah pikiran bodoh ini kembali menyerempet nama jahanam itu,

Tapi ini berbeda, sangat berbeda!

Kenapa aku sudah terpesona dari awal pertama berjumpa dengan Surti?, bahkan aku sempat sedikit nakal agak lama berjabat tangan berkenalan tadi?, padahal dulu dengan Siti tidak seperti ini! Ini berbeda, sungguh sangat berbeda..

Apakah ini wajar? Ataukah ini kurang ajar?

Pandangan pertama awal aku berjumpa,
Pandangan pertama awal aku berjumpa,
Seolah-olah hanya, impian yang berlalu,
Hampir-hampir aku tak sadar di buatnya,

Memang Kecantikannya,
Dan kelembutan hatinya,
Membuat aku berani,
Menghadapi dunia​

Ahhh.. Aku malah macam remaja. SMA saja, senyum-senyum sendiri mengingat kejadian dan pertentangan batin yang baru saja terjadi..

Heeeeeemmmm.. Surti!!

***

Akhirnya, malam itu acara berlangsung dengan sangat khidmat, ramai serta lancar, dan setelah semua tamu undangan pulang, semua orang juga merasakan kepuasaan yang sama meskipun ada sedikit kelelahan meliputi,

Namun bagiku bukan itu yang penting, sepanjang acara tadi, bahkan sampai selesai dan semuanya pulang, yang aku perhatikan dengan kurang ajarnya hanyalah Surti, yaaahh, Lagi-lagi Surti,

Malam itu dia mengenakan busana sederhana namun pas dibadan, tidak mahal namun terkesan elegan! Sapuan make up nya pun terkesan natural namun menyegarkan..

Pokoknya malam itu tidak nampak sama sekali didepan mataku pandangan lain selain Surti, entah dia tahu atau tidak saat ku perhatikan, tapi aku tidak peduli,

Maybe It Called Love At First Sight

Sampai akhirnya keadaan sudah sepi kembali, orang-orang sudah kembali kerumahnya masing-masing, begitupun denganku, yang sudah waktunya masuk kamar untuk istirahat setelah sebentar tadi membantu membereskan peralatan,

Lirikan matamu, menarik hati,
Oh senyumanmu, manis sekali,
Sehingga membuat, aku tergoda,
Sebenarnya aku ingin sekali,
Mendekatimu, memadu kasih,
Namun sayang-sayang, malu rasanya,
Biar kucari nanti jawabnya​

Yaaahh.. Biarlah nanti aku cari jawaban atas semua ini, yang penting saat ini adalah, Tidur

***

Genap 4 hari sudah aku di tempatnya Supri untuk berlibur, atau lebih tepatnya sedikit mendinginkan tensi didih otak yang lumayan sudah tinggi. Selama 4 hari itu pulalah aku mendapatkan beberapa kejadian unik dan juga membuat senang.

Kejadian yang membuatku agak sedikit senang tak lain dan tak bukan adalah keterbukaan cara pikir ku saat ini, setelah sebelumnya aku mengalami mimpi bertemu dengan Ibu, kemudian setelah sampai di tempat Supri aku mendapatkan beberapa petuah atas obrolan-obrolan singkat yang aku lakukan dengan Paman Supri yang akan segera berangkat Haji, dimana beliau juga dikenal sebagai seorang Pemuka Agama yang cukup terkenal dan di segani, sehingga lambat laun mampu menyadarkan kevakuman pemikiran otak yang aku alami.

Kemudian peristiwa yang aku bilang unik tak lain dan tak bukan adalah peristiwa pertemuanku dengan Surti, orang lain boleh mengatakan pertemuanku dengan Surti tergolong biasa saja, bagaimana tidak?, sebuah pertemuan yang tidak disengaja, bahkan bisa di bilang kebetulan atau apalah namanya, dari Jedah waktu 5 menit antara berangkat dan tidak, sampai akhirnya aku memutuskan ikut berangkat ke rumah Supri. Dari sebuah perkenalan singkat, dan bisa di bilang Meet By An Empty Cigarette alias Pertemuan dan Perkenalan Karena Rokok Habis.

Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Dari habisnya stok rokok ku serta rokok Supri, sampai akhirnya Supri menyuru Surti untuk membelikan, dari situlah aku pertama kali ketemu dan berkenalan dengan Surti.

Dan dari situlah terus terang aku mengakui adanya Something Different atau sesuatu yang berbeda dari hatiku! Pemikiran logis dengan sedikit bumbu tidak waras! Pemikiran praktis dengan balutan atas nama cinta pada pandangan pertama!

Yaaaaahhh…

Love at First Sight, aku memang mengakui itu, meskipun aku juga pernah menjalin hubungan juga dengan betina laknat bernama Siti. Namun ini lain, dan sangat-sangat berbeda kaidahnya.

Kalau dulu, saat berkenalan dengan Siti, aku tidak merasakan adanya vibrasi alias getaran jiwa seperti saat aku pertama kali bertemu Surti. Aku tidak merasakan adanya gelombang rasa suka pada lawan jenis seperti saat aku melihat Surti.

Orang mungkin mengatakan aku munafik atau apalah, mengatakan aku terkena Syndrome PHP juga terserah, tapi perasaan suka ku pada saat bertemu Surti terus terang lebih dari yang kurasakan dulu saat bertemu Siti.

Kalau dulu aku betemu dengan Siti, belum genap 2 hari aku langsung tembak dan bilang suka, padahal intensitas perkenalan dan pendalaman karakter diri masing-masing juga belum sepenuhnya paham! Tapi yaa tetap saja aku nekat, dan Siti pun menerima, mau apa lagi, bahkan sampai akhirnya adegan syahwat 17++ bukan lagi hal tabu bagi kami.

Namun dengan Surti beda!

4 hari sodara-sodara! Dan dalam 4 hari itu aku cuma mampu memendam saja! Memandang dari kejauhan! Dan yang paling Gila, kadang aku berbicara sendiri seolah-olah aku berbicara dengan Surti saat aku lihat dia lewat di depan rumah Supri. Namun begitu, aku sama sekali tidak merasakan adanya Syahwat, yang aku rasakan adalah Keteduhan.. Yaaahh! Keteduhan dari Seorang Wanita Desa bernama Surti, dan Bukan Syahwat seperti sebelumnya.

It’s Unbelievable.. Unpredicted.. And Indefinites.. Tidak Bisa Dipercaya.. Tidak Perprediksi dan Juga Tidak Bisa Dijelaskan..

Dan bahkan aku juga tidak yakin, bahkan percaya kalau para pujangga yang katanya punya banyak filosofi tentang cinta akan punya pemikiran yang sama denganku..

***

Mungkin aku bukan pujangga,
Yang pandai merangkai kata,
Ku tak slalu, kirimkan bunga,
Untuk ungkapkan hatiku,

Ku ingin kau tau,
Isi di hatiku,
Ku tak akan lelah,
Jaga hati ini,
Hingga dunia tak bermentari,

Satu yang ku pinta,
Yakini diriku,
Hati ini milikmu,
Semua yang ku lakukan untukmu lebih dari sebuah,
Kata Cinta untukmu,
Dirimu

***

Bersambung