5 Minutes Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 11 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 10

~ Life Transitions ~
(Road To Romantika Dion dan Surti)
II

Satu minggu sudah berlalu semenjak kejadian perkelahian yang aku lakukan di tempat kost Siti, satu minggu pula aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan beberapa minuman botol jin! Kadang sedikit terbersit di pikiran betapa bodohnya aku sampai melakukan hal seperti ini hanya karena seorang Betina bernama Siti! Tapi memang kenyataan yang ada seperti ini mau bagaimana lagi.

Seperti saat sekarang ini juga, sambil menggelosoh santai di karpet, tangan kanan Red Label, tangan kiri sloki kecil. Kembali ku habiskan waktu hari ini. Seperti manusia dengan Otak yang mengalami Alzheimer Syndrome, yang tidak mampu mengingat akan beberapa tugas penting yang harusnya dikerjakan untuk selanjutnya, yang hanya terpaku pada kejadian kemarin dan atau kemarinnya.

Tidak ada lagi gairah untuk menyentuh tumpukan kertas skripsi, tidak ada lagi keinginan menghitung ulang koefisien tingkat keberhasilan pencampuran bahan silase, serta tidak ada lagi hipotesis berkelanjutan seperti yang diperintahkan Pak Prawiro. Tidak ada lagi!

Semuanya seakan menguap begitu saja, apalagi ditembah ketiadaan Pak Prawiro di kampus saat ini, beliau masih berkutat dengan tugas administratif di Australia, makin terbukalah jalanku untuk meneruskan beberapa kegilaan yang ada saat ini.

I don’t know actually, what should I Do Now

Beberapa berita juga sudah aku dapat, baik dari Tono and The Gank mengenai sisa dan dampak kejadian perkelahian lalu, yang intinya semua sudah di jamin tidak akan menghadirkan babak baru yang bisa menggangguku, bahkan, kabar terakhir yang aku dengar dari Tono, Siti juga sudah tidak lagi kost di situ, entah dia sudah pindah kemana, semua orang disekitar tidak ada yang tahu menahu. Aku? Mau mati juga aku tidak peduli sama nasib Iblis Betina itu.

Ok. Satu masalah teratasi.

Dan tentu bukan itu saja, Supri juga sudah memberitahu aku akan beberapa kemungkinan terburuk dari Pihak Kampus atas kejadian kemarin. Memang sih ada beberapa pembicaraan-pembicaraan ke arah kejadian itu, namun hanya pembicaraan terkotak pada kelas atau kelompok dimana Siti dan juga pasangannya itu belajar di kelas, yang artinya tidak sampai meluas ke koridor Fakultas atau yang paling parah Universitas.

Makin amanlah aku,

Dan yang terakhir, Erna juga kasih informasi, bahwa Siti dan juga pasangannya itu sudah 1 minggu ini tidak juga menampakkan batang hidungnya, menurut informasi dari Saiful, temannya Andre yang aku temui di kantin saat itu, Andre juga sama sekali tidak ada kabar, entah pulang, entah pindah kost, atau bahkan entah di telan bumi juga aku tidak peduli.

Memangnya aku bapaknya,

Tokk.. Tookk.. Toookk “, Di.. Dion.. Ada di kamar ndak ?”,

Di tengah lamunanku, tiba-tiba terdengar ketukan pintu kamar kost di ikuti panggilan namaku, dan yang pasti dan aku tahu, itu adalah suaranya Supri.

Ehh.. Kkaa kamu Pri “, jawabku tergagap karena belum sempat aku berdiri ataupun membuka pintu, Supri tiba-tiba saja sudah masuk duluan di ikuti Erna.

Oalaaahh Diiii.. Di “, Tak pikir kamu lagi apa gitu “, kata Supri kemudian setelah mengetahui kondisiku yang masih bersandar mesra di dinding kamar ditemani botol jin dan juga sloki kecil,

Sudah dikasih beberapa kabar bagus juga, masih saja ndak paham “, bukannya bangkit, bersemangat karena ndak ada kelanjutan masalah kemarin, malah ndak karu-karuan seperti ini “, lanjutnya sambil mengambil duduk di kasur di ikuti Erna disebelahnya,

Haaahh “, entahlah Pri, aku juga bingung “, jawabku asal karena bingung juga mau jawab apa.

Ehh.. Ehh.. Ehhhh “, apa-apaan kamu Pri ?”, kataku dengan tiba-tiba karena kaget Supri mengambil dengan cepat botol di tangan kananku, yang kemudian diserahkan ke Erna,

Buang di tempat sampah Er “, katanya ke Erna untuk membuang botol jin ku ditempat sampah, padahal isinya masih ada sekitar setengah, yang kalau dikalkulasikan masih ada Uang Rp. 250 Ribu didalamnya, karena harga satu botol penuhnya adalah Rp. 500 Ribu.

Tapp.. Tapi Mas “, tanya Erna agak kebingungan namun dijawab dengan ketegasan penuh oleh Supri,

Sudah, jangan membantah “, Lama-lama jadi kandang setan kamar ini “,

Hehh Di “, Lihat ke sini , kata Supri kemudian sambil diikuti memegang pundak kanan kiriku untuk dihadapkan persis di depan mukanya, akupun hanya nurut saja, selain aku tidak punya sama sekali tenaga, aku pikir percuma juga melawan Supri saat ini.

Heehh Jagoan Karbitan, kamu mau marah, silahkan , atau kamu mau ngajak aku berantem, ayyo saja ,

Aku eneg Di lihat kamu seperti ini, kita semua sudah bantu semaksimal kita , tapi apa hasilnya.. Hahhh ,

Kamu bukannya memperbaiki semuanya, malah berlagak macam banci saja , Mengurung diri di kamar, minum ,

Bukannya meneruskan Tugas, ini buat apa Di.. Buat appaaa ,

Panjang lebar Supri melontarkan kemarahannya padaku, sampai akhirnya dia mengambil beberapa lembar hipotesisku, menyodorkan lembaran-lembaran itu persis di depan mukaku, lalu kemudian meletakkanya kembali meskipun dengan sedikit di banting karena kesal.

Aku paham, aku ngerti, dan aku yakin itu semua dilakukan Supri karena memang aku sangat paham bagaimana watak Supri.

Aku hanya diam saja sambil menunduk, berkecamuk pikiran saat itu, entah malu, tertekan, ataupun sedikit marah karena perkataan Supri tadi,

Namun akhirnya akupun menyadari, percuma juga aku membantahnya, sudah banyak yang dilakukan oleh saudaraku Supri dan Erna, tidak terhitung lagi kebaikan yang telah mereka lakukan untuk menolongku dari keterpurukan ini.

Sedangkan aku.. Apa balasan yang sudah aku perbuat untuk mereka semua.

Heehh, besok jam 7 Pagi, aku mau pulang , tadi bapak telpon, aku disuruh pulang, pamanku mau pergi Haji, ada sedikit tasyakuran ,

Rencanaku sebenarnya mau pergi sama Erna, tapi karena besok dia ada Quiz, jadi ndak bisa. , makanya, daripada kamu cuma merenung di kamar macam Orang tolol begini, aku mau ngajak kamu, gimana ?

Ahhh, rupanya Supri besok punya rencana mau pulang kampung karena ada tasyakuran pamannya mau pergi Haji, dan karena Erna tidak bisa ikut, akhirnya dia mau mengajakku, mungkin tujuannya selain ingin supaya ada teman, dia juga ingin aku menikmati segarnya udara luar biar lama-lama tidak jadi gila karena kebanyakan berdiam diri sambil mabuk di kamar,

Emm.. Emmm..,

Sudah, ndak usah di jawab sekarang, orang mabuk ndak mungkin jawabannya logis , sergah Supri kemudian memotong keraguanku saat itu,

Aku ke kampus dulu sama Erna , dan kamu.. Jangan coba-coba lagi ambil minuman yang sudah di buang Erna tadi, apalagi sampai keluar beli lagi, awaaass kamu ancamnya kemudian sambil meletakkan kepalan tinjunya persis dihadapan mukaku,

***********​

Akhirnya Supri dan Erna pun beranjak pergi ke kampus menyisakan aku di dalam kamar dengan pikiran tak menentu, kepala pusing serta kondisi fisik yang awut-awutan.

Sepeningggal mereka, aku mencoba berdiri meskipun masih dengan kondisi mabuk, lutut masih goyahpun tetap ku paksakan, pelan-pelan sambil berpengangan tembok kamar macam bayi yang baru belajar berjalan, akhirnya aku sampai juga di pintu serta melihat alam sekitar.

Ahhh, sudah sore rupanya..

Memang sudah sore dan aku pastikan itu setelah menengok Semok yang juga menunjukkan jam 4 sore.

Sementara di tong sampah, aku lihat si botol jin tergeletak begitu saja tak bertuan, sebenarnya ada pikiran juga untuk kembali mengambilnya, namun daripada nanti tersandung masalah lagi dengan Supri, akhirnya aku urungkan niatku, sambil kemudian balik lagi dengab masih sempoyongan ke tempat tidur setelah terlebih dahulu menutup pintu dengan agak sedikit keras.

Blaaammmm!!!

***********​

Adduuuhhh

Tiba-tiba saja aku terbagun, dengan kondisi yang tidak berbeda jauh sebelum aku masuk lagi dan kemudian tertidur. Dengan pakaian yang masih sama, namun kali ini ditambah lagi dengan kepala pusing dan pandangan mata sedikit buram,

Heeemm, jam 8 ternyata , lumayan lama juga tadi aku tidur , tapi kepala kok masih nyut-nyutan gini yaaa , kataku kemudian setelah terbangun dan melihat jam sambil memegang serta menggeleng-gelengkan kepalaku yang masih terasa berputar-putar.

Kembali dengan keadaan yang sama seperti sore tadi, dengan tertatih-tatih karena lutut masih goyah akibat efek isi botol jin tadi, aku kembali mencoba keluar, yaaahh, mungkin dengan sedikit basuhan air di muka bisa akan membuat kondisi lebih baik.

Namun, begitu langkahku keluar dari pintu, dari kamar Supri aku seperti mendengar sebuah percakapan yang sering aku dengar sebelumnya, percakapan?

Iyya, Percakapan! Atau lebih tepatnya sebuah konversasi saling bersautan yang dilakukan oleh dua orang!

Heheheheee..

Ahhhh.. Apa salahnya sebelum ke kamar mandi aku intip sebentar lahh.

Aku sendiri tidak paham kenapa tiba-tiba aku lebih tertarik mendengarkan, atau mungkin nanti bisa sedikit menyaksikan, apa yang sebenarnya terjadi didalam kamar Supri,

Akhirnya, dengan masih berpegangan tembok, sempoyongan, ku balikkan arah tujuan, dengan langkah pelan walaupun agak sedikit sulit dan berat, sampailah aku di ujung jendela yang sedikit tidak tertutup korden di kamar Supri.

Waaaaawww.. Seggeeeeeerrr!!!

Heheheheeeee…

Aku lihat di dalam kamar, Erna dan Supri saling bersilat lidah dalam posisi berdiri dan keadaan setengan telanjang, Supri hanya tinggal mengenakan celana dalamnya saja, sedangkan Erna masih mengenakan celana dalam sekaligus BH nya.

Uuuhmmm.. Uhhmm.. Sluuurpp.. Sluuurppp ,

Begitulah kiranya pelan aku dengar suara kecupan dan pertukaran lidah keduanya.

Mungkin mereka berpikir, aku masih tidur, sehingga mereka akhirnya melakukan itu.

Tak lama kemudiam, aku lihat semua pertahanan akhir dari keduanya terlepas sudah, Celana Dalam keduanya sudah sama-sama terongok, begitu pula BH Erna pada akhirnya..

Ssssttt.. Aahhhh.. Uuuugghhh ,Ennaakk Maaasshhh,

Erna kulihat mendesis dan sedikit mengejang setelah mulut Supri dengan nakalnya mencucup serta menyedot pucuk buah dadanya dengan penuh nikmat, yang kemudian di barengi dengan goyangan erotis pinggulnya saat tangan kanan Supri mampir di lembah surganya sambil jari-jari tangannya tak lupa berinteraksi dengan lubang hangat itu,

Iiihhsss.. Oouughh.. Terruussshh Maasshh , ennnaakk baanngeett Massshh , uuuuggghhhtt

Kembali sambil tambah mirip orang yang sedang demam atau mengalami gejala step, di barengi pula dengan peluh disekujur tubuh serta lengkungan punggungnya, Erna menikmati sedotan-sedotan nakal Supri serta kobelan-kobelan di memeknya.

Aaarrghh.. Aaarggghh.. Ennakk Errrr , sluuuuurrpp.. Sluuuuurppp , Uuuuugghhh ,

Sekarang gantian Supri yang mengejang keenakan saat penisnnya sudah bersarang di lembutnya bibir Erna, di barengi dengan ulasan lidah, serta kocokan-kocokan lembut pada batangnya, Supri menikmati semuanya sambil terdongak nikmat sembari memegang rabut Erna supaya tidak mengganggu proset sedotisasi itu,

Tak lama berselang, mungkin saking kebeletnya, akhirnya sengan sedikit tidak sabar, Supri mendorong Erna untuk rebah di kasur dengan posisi kedua kaki melebar memperlihatkan keindahan sangkar madu pemberi nikmat burung tanpa sayapnya.

Aaaauuuggghhhtt.. Sssttttt… Aaaaghhhh ,

Berbarengan mereka berdua mendesah nikmat setelah dengan sukses burung tanpa sayap Supri bersarang di tempatnya,

Ccpplookk.. Ccplookk.. Ahhh.. Ahhh.. Eeehhmmm.. Uuughhhtt.. Sssshhhh.. , Ennnaakk banggetthh Maasshhh ,

Lenguh Erna keenakan sambil mendekap erat tubuh telanjang Supri sembari mengusap lembut punggungnya, dibarengi hentakan pantat serta kakinya yang seperti capit memjepit pinggang Supri,

Iyyaaahh Errr.. Uuughhht.. Ennaakhh banggetth.. Angghettt.. Oouugggghhtt.. Ssstttt.. Aaaahhh ,

Tak kalah nikmat Supri juga merasakan hangat dan nikmatnya Memek Erna sembari makin mempercepat tusukan dan kocokan penisnya,

Entah berapa lama mereka berada dalam posisi tersebut, yang jelas, segala macam keenakan serta keindahan penyatuan dua insan telah mereka rasakan,

Peluh yang membasah, goyangan yang seperti terarah, ataupun bunyi-bunyian yang mendesah sudah mereka keluarkan semua..

Ayyoo Massshh.. Tuuussuukkhh Errnnaahh , ooooouuugghhtt.. Ssshhmmm.. Aarggghh.. Ahh.. Ahhh.. Ooohh.. Ooohhh.. Ooouughhhttt ,

Kali ini dalam posisi membelakangi aliias doggie, Supri terlihat makin jantan saja di mata Erna, tusukan-tusukannya jadi semakin mantap, hal itu terbukti dengan makin kerasnya desahan Erna, makin sering pula tubuhnya mengejang nikmat,

Uuuugghh.. Uuugghhh.. Uuugghhh.. Heeemmm.. Aaahhhh , plakkk.. Plaaakkk.. Plakkk ,

Kali ini sambil dengan sedikit mengayunkan telapak tangannya, untuk kemudian mendarat di pantat montok Erna, Supri makin garang saja menusuk, membombardir serta merasakan pijatan-pijatan lembut dak nikmat dari memek Erna, begitupun dengan Erna,

Aaaarggghh.. Iyyyaahh.. Iyyaaahh.. Oouugghh.. Oouughttt.. Ahhh.. Ooohhh.. Ooouggghhtt.. Sssttttt.. Aaaggghhh ,

Semakin binal dan liar saja gerakannya setelah sedikit mendapat tamparan ringan Supri di pantatnya, apalagi, sekarang ditambah pula dengan sedikit jambakan ringan di rambutnya, makin menambah binal pulalah pertarungan mereka,

Sampai pada akhirnya,

Hayyoohh.. Hayyoohh.. Sssshhh.. Akkkhh.. Ooouhh.. Ooougghht.. Aaaaaargggghhhhh.. Aakkkkuuuu ssammpaaaiii Maaaaaassssshhhh ,

Terdengar teriakan nikmat tak terkira dari Erna, dibarengi dengan lonjakan-lonjakan serta tubuhnya yang mengejang sampai tersungkur dan menelungkup di kasur,

Akkuuhh juggaahh.. Aakkhh.. Akhhh.. Akhhh.. Sssttt.. Ooooooooouugghhhtttt ,

Demikian pula Supri akhirnya mendapatkan nikmatnya sembari mengeluarkan seluruh amunisinya tanpa tersisa sama sekali, dan tak lama kemudian keduanya rubuh saling tindih di kasur,

Aaaaahhh.. Akhirnyaaa..

************​

Selesai pulalah aku melakukan proses ngintipisasi malam itu, yaaaahh, meskipun akhirnya berakibat dengan Dion Jr yang juga akhirnya berdiri juga, namun apa daya!

Akhirnya kembali kulangkahkan kaki ke kamar mandi, cuci muka, cuci kaki dan lain sebagainya, dengan kepala masih terasa pusing dan langkah gontai, kembali masuk ke kamar, sedikit mempertimbangkan tawaran Supri untuk menemaninya pulang kampung besok, yang entah akan aku sanggupi atau tidak mengingat kondisi fisik dan pikiran yang masih amburadul seperti ini.. Akhirnya, tergeletaklah dikasur di iringi alunan musik dari laptop tercinta.

************

My girl, my girl, don’t lie to me
Tell me where did you sleep last night

In the pines, in the pines
Where the sun doesn’t ever shine
I would shiver the whole night through

My girl, my girl, where will you go
I’m going where where the cold wind blows

In the pines, in the pines
Where the sun doesn’t ever shine
I would shiver the whole night through

Her husband, was a hard working man
Just about a mile from here
His head was found in a driving wheel
But his body never was found

My girl, my girl, don’t lie to me
Tell me where did you sleep last night

In the pines, in the pines
Where the sun doesn’t ever shine
I would shiver the whole night through

My girl, my girl, where will you go
I’m going where where the cold wind blows

In the pines, in the pines
Where the sun doesn’t ever shine
I would shiver the whole night through

My girl, my girl, don’t lie to me
Tell me where did you sleep last night

In the pines, in the pines
Where the sun doesn’t ever shine
I would shiver the whole night through

My girl, my girl, where will you go
I’m going where where the cold wind blows

In the pines, in the pines
Where the sun doesn’t ever shine
I would shiver the whole night through

**********​

Sore itu, aku sedang santai duduk di depan rumah sambil menikmati rokok kesayanganku, yang tanpa aku sadari sebelumnya, tiba-tiba saja Ibu ku dengan sedikit mengagetkan duduk di sebelahku,

Kenapa Di?, ada masalah apalagi Nak , tiba-tiba beliau bertanya sambil tersenyum lembut mengusap-usap sayang kepalaku,

Ndak tau kenapa ini Bu’, akhir-akhir ini kondisiku kok makin aneh seperti ini “,

Banyak sekali masalah datang silih berganti, hilang satu datang yang lain , seperti tidak pernah habis saja masalah-masalah ku dari dulu Bu’ , jawabku sambil akhirnya cerita semua unrg-uneg yang sudah menumpuk di kepalaku,

Heheheee, Diooon-Dion , Ibu’ paham sekali Nak apa yang menjadi beban pikiranmu dari dulu, dan Ibu’ juga yakin sebenarnya kamu itu sudah tahu jawabannya, tapi belum sempat untuk menoleh ke arah itu , jawab Ibu ku kalem sambil masih tersenyum dengan manisnya,

Tuhan itu Maha Adil Nak, dan yang paling Utama, Tuhan Tidak Pernah Memberikan Sebuah Cobaan di Luar Batas Kemampuan seseorang , Tinggal bagaimana seseorang itu berusaha serta memohon pertolongan , imbuhnya kemudian,

Naaaahh, kamu mungkin sudah berupaya semaksimal kamu untuk menyelesaikan permasalahan itu Nak, cuma 1 hal yang akhir-akhir ini sudah jarang sekali kamu lakukan, kamu sudah jarang untuk meminta pertolongan Kepada Tuhan , tambahnya kemudian mengakhiri penjelasan,

Entah kenapa, tiba-tiba saja detak jantungku berdetak semakin kencang, seluruh badan terasa gemetaran, bahkan tanpa sadar lambat-laun pandangan mataku makin mengabur, dan tanpa sadar menangis tersedu-sedu macam anak kecil yang di tinggal pergi jalan-jalan namun tidak di ajak serta, yang kemudian makin kencang saja dalam dekapan Ibu ku,

Hukk.. Hukk.. Huuukk , Ibu benar Bu, akhir-akhir ini Dion sudah jarang sekali meminta pertolongan Kepada Tuhan, Dion terlalu sibuk dengan urusan Dion sendiri , jawabku sembari makin mempererat rangkulanku seakan mencari pegangan atas kerapuhan yang akhir-akhir ini menderaku,

Ya sudaaahh kalau kamu sudah paham Nak, sekarang cobalah memohon pertolongan Kepada Tuhan, Niscaya kalau kamu benar-benar Tulus Memintanya, semua akan di permudah jawab Ibu ku kemudian,

Damai sekali perasaanku saat itu, damai sekali, seperti sebuah kedamaian yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan,

Namun, ditengah kedamaian yang kurasakan saat itu, aku merasakan seperti ada sesuatu yang perlahan-lahan menepuk paha sebelah kiriku, dari pelan-pelan, sampai akhirnya sebuah tepukan yang agak kasar mengagetkan aku,

Huaaaaahh , tiba-tiba saja aku seperti tersadar, dan spontan saja langsung duduk,

Hahh.. Hahh.. Haaahh.., oalaaaaahh, kamu toh Pri , tak kira siapa , jawabku kemudian setelah secara perlahan mengumpulkan kesadaran,

Lagian kamu itu lho Di, macam anak kecil saja tidur sambil nangis-nangis, dah gitu guling dipeluk-peluk, nambah lagi panggil-panggil Ibu kamu , ada apa sih Di, kamu kangen sama Ibu kamu ? , kalau kangen ya coba pulang dulu, lagian kamu kan sudah lama belum pulang , cerocos Supri kemudian macam KRL yang sedang memburu waktu pada saat jam sibuk kantor.

Heheheeee, iyya tah Pri aku nangis ?, jadi malu aku

Tadi itu aku lagi ngobrol sama Ibu, Pri , yaaahh, sedikit curhat lah akan masalahku akhir-akhir ini, dan yang mungkin tadi katamu aku sampai nangis-nangis itu ya karena jawaban Ibu ku Pri, sebuah jawaban yang sangat telak memukul bathin dan perasaanku sekarang jawabku tak kalah detail sambil agak sedikit cengengesan menahan malu,

Ooooo, memang apa yang di bilang Ibu mu tadi dalam mimpimu itu ?, tanya Supri kemudian,

Heheheee, It’s My Secret Captain jawabku kemudian sambil masih tersenyum,

Akhirnya aku bisa tersenyum di pagi itu, sebuah senyum yang hampir satu minggu lebih ini seperti hilang ditelan beberapa masalah pelik yang terjadi, dan jawaban yang kuterima dari Ibu dalam mimpiku tadi seperti membuka semuanya, membuka kesadaran yang selama ini tertutupi,

Lhaaa, terus kamu mau apa ke sini Pri?,

Kamu itu amnesia atau pura-pura lupa sihh Di , atau masih mabuk ?, jawab Supri kemudian sambil memegang dahiku macam memeriksa anak kecil yang sedang Demam saja,

Apa-apan sih kamu Pri!, kamu kira aku lagi demam apa! Imbuhku sambil menurunkan tangannya dari dahiku,

Kamu jadi ikut apa tidak? , sudah jam 7 kurang 10 menit ini lhooooo , kemarin aku kan sudah nawari kamu, mau ikut aku pulang apa ndaaakk? , kalau ikut ya ayyo, kalau tidak ya ndak papa , aku tak pulang sendiri saja, soalnya jam 7 sudah harus berangkat, biar sampe rumah ndak kesorean , jawab Supri yang akhirnya menyadarkanku akan kehadirannya dikamarku pagi ini sambil kemudian berlalu keluar, masuk kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.

Oiyyaaa.. Kemarin Supri sempat menawari aku untuk mengajak pulang ke kampungnya karena ada acara hajatan Pamannya yang akan Pergi Haji, namun sampai saat ini aku belum juga memberi keputusan mau ikut atau tidak, dan sampai saat inipun aku masih bingung mau ikut atau tidak.

Sampai pada akhirnya, setelah menimbang banyak alasan, dari kondisi yang masih lemas, kepala yang masih agak pening, persis jam 7 kurang 5 Menit, aku sudah memberi jawaban ke kamarnya Supri yang intinya aku Akan Ikut.

************​

Akhirnya, daripada bengong sendiri di kost, dan bahkan mungkin akan mengakibatkan stuck ataupun kebekuan pikiran lagi karena beberapa hal yang akhir-akhir ini sering aku lakukan sebagai akibat dari ketololanku sendiri, dan juga, aku seperti sudah sedikit mendapatkan jawaban atas beberapa pertanyaanku akhir-akhir ini, dengan beberapa pertimbangan lain juga,

Akhirnya aku memutuskan untuk ikut Supri pulang ke kampung halamanya, karena aku pikir, selain dapat sedikit merefresh otak, disana nanti aku juga bisa sedikit mencari solusi atas bahan skripsiku, karena yang aku ketahui sebelumnya, orang tua Supri adalah Juragan Kambing dan Sapi, nahh siapa tahu aku bisa sedikit berinteraksi lebih, bahkan kalau beruntung, aku bisa dapat ilmu pasti, yang jarang ada atau bahkan mungkin tidak ada dalam bangku kuliah ataupun skripsi.

************​

Setelah melakukan perjalan selama ± 4 Jam, akhirnya sampailah di Kampung Supri, beberapa Tenda berukuran besar untuk acara yang rencananya akan di langsungkan besok malamnya sudah terpasang di depan rumah Supri dan juga rumah Pamannya yang letaknya persis di sebelahnya, aku maklum saja, karena mungkin acara yang akan dilaksanakan termasuk besar, disamping itu pula, keluarga besar Supri termasuk keluarga terpandang di kampung itu.

Akupun di terima dengan sukacita, dan karena masih banyak kebutuhan yang harus disiapkan, maka Bapak, Ibu serta Paman Supri meminta maaf belum bisa menemani, dan sebagai gantinya, aku dipersilahkan untuk beristirahat dikamar yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Malamnya, setelah cukup beristirahat serta memulihkan tenaga, aku dan Supri duduk santai diteras depan rimah ditemani Pisang Goreng Hangat serta secangkir Kopi Susu kesukaanku, namun, ditengah-tengah obrolan ngalor-ngidul ku bersama Supri, tiba-tiba terdengar panggilan Ibu nya Supri dari dalam rumah,

Pri, Supri, HP mu bunyi itu lhooo “,

Iyya Buu “, jawab Supri kemudian,

Bentar Di, aku tak ambil HP dulu ya, siapa tau dari Erna “, imbuhnya sambil kemudian ke kamar untuk mengambil HP nya.

Sesaat kemudian Supri pamit kalau dia ingin keluar sebentar, katanya sih tidak jauh, dia mau ke Rumahnya Bi’ Sumarni, tetangga Supri yang rumahnya terpaut 3 rumah didepan rumahnya Supri.

Dan setelah hampir ± 15 menit kemudian, Supri sudah kembali, sambil kemudian kembali mengambil duduk disebelahku.

Memang siapa Pri yang telpon?, Kok kamu malah pergi ke rumah itu ? , tanyaku agak sedikit kurang kerjaan dan ingin tahu,

Bukannya Erna yang telpon tadi? Sambungku kemudian,

Ooo, bukan Erna kok Di yang telpon ,

Erna sudah telpon tadi sore waktu kamu masih tidur ,
jawabnya seakan menjawab keingintahuanku serta mungkin kekurangkerjaanku,

Lhaa terus, siapa yang tadi telpon? , kok kelihatannya penting sekali sampai kamu lari-lari , lanjutku.

Hehehehee, yang telpon tadi anaknya Bi’ Sumarni, salah satu pegawainya Ibu’ yg jaga Toko di pasar , jawabnya singkat,

Anaknya Bi’ Sumarni itu ikut kerja sama Pamannya di Kota, rencananya dia mau pulang, trus besok pagi minta tolong di jemput di jalan besar , lanjutnya kemudian,

Daaaaann, kalau masih penasaran juga, anaknya Bi’ Sumarni itu namanya Surti .

Ooo.. Surti yaaa jawabku asal kemudian,

Akhirnya ngobrol-ngobrol malam itu di akhiri dengan masuknya kami ke kamar masing-masing untuk istirahat melepas penat,

************​

Bersambung