5 Minutes Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 1

Jodoh 5 Menit
(Romantika Dion dan Surti)

“Sebuah Kisah Imajinatif Tentang Realita Kehidupan, yang mengatasnamakan Cinta, Nafsu dan Dendam! Dengan sedikit sentuhan Bumbu Erotis “​

Whuuusss.. Jdhhhuuueerr.. Tik.Tik.Tik..

Malam itu suasana di sebuah Desa yg lumayan rame (kalo siang hari maksudnya), nampak Lengang dan sunyi.. Rembulan juga macam Gadis Perawan saja yg malu menampakkan wajahnya, hanya suara hujan, angin serta petir saja yg malam itu nampak berkuasa..

Motor 2 Tak punya Si Udin pun tak lg berani Meraung seperti biasanya, Hansip yg biasanya Sok Pemberani jalan-jalan keliling kampung, malam itu cuma meringkuk di Pos Jaga.. Rumah-rumah pun nampak tertutup rapat baik pintu ato jendelanya, para penghuninya jg lebih memilih bernegoisasi dengan para selimutnya (entah itu selimut yg bisa bernafas ato tidak).. Iyya.. Benar-benar sepi Desa itu..

Namun..

Hal tersebut tidaklah berlaku pada sebuah rumah di pojok kampung.. Rumah yg lumayan besar, dengan kebun yg luas, serta beberapa Petak Kandang Kambing di sebelahnya.. Dan kalo kita mau lebih sedikit masuk dan mengintip salah satu kamarnya, maka kita akan melihat sebuah perbedaan yg mencolok dari penghuninya..

***

Yaahh..

Di saat para penghuni lain sibuk dalam alam mimpi mereka, berbanding terbalik dengan dua anak manusia yg ada di dalamya, di saat yg lain sibuk mengenakan berlapis pakaian untuk menahan dingin, mereka berdua malah berlagak sakti dengan tanpa busana.. Irama yg terdengar bukanlah irama dengkur yg fals, tapi suara rintihan dan erangan tertahan yg tune control nya terdengar merdu..

***

Di atas ranjang itu nampak tergolek tubuh berpeluh seorang Wanita, dengan Body Semampai mengeliat tertahan di bawah himpitan seorang Lelaki yg dengan Garangnya memaju-mundurkan Batang Beruratnya ke dalam Lubang Nikmat wanita tersebut..

“Ohhh.. Ohhh.. Ohhh.. Ayoo Mas, Ayoo.. Dooorr..rhhooonngg yg dalam.. Ahh.. Ahhh”.. Jerit wanita itu merasakan nikmat 17 Tahun + dari tusukan penis suaminya..

“Heemmhh…. Hahh.. Hahh.. Ohhh sayang.. Enak sekali himpitannya”.. Demikian pula apa yg di rasakan lelaki tersebut atas pitingan dan jepitan
nikmat vagina istrinya..

“Phuunn.. Nyyaaa Mas juga ehnnn..nnaaakk.. Punnyyaaakkuu juggghhaaa semmmaakkinn hanggghhaat Mas”, “ayyyoo Massshh.. Hahh.. Ohhh.. Ohhh.. Lebbihh cepphhatt llagghhhii”, “Suuurrttt..iiiii sudddahh mmau eennahhhaak Masss”..

“Iyyaaa sayyyaanngg.. Masss jjuuggaa mauu ennnaakk”, “kitthaa sammhaa..sammhhaa sayyaanghh”.. Tambah si suami..

“Iyyaaahh.. Iyyaaahhh.. Iyyaaahhh.. Iyyaaaaaahh.. Maaaashh.. Surti sampahhhaai Masshh.. Surti ennakk Mass.. Haaahh.. Hahh” jerit si istri yg tak lama kemudian di ikuti pula oleh erangan si suami..

“Heeemhh.. Haaahhh.. Hooaahhhh.. Mass jugghaaa eennhhaakk ssaayyyaanggg”.. Lantunan merdu syahwat si suami yg di ikuti meluncurnya Jutaan Calon penerusnya untuk mulai melakukan perjalan suci dalam rahim istrinya..

“Haaahh.. Enak sekali sayangg.. Cuuuphh..”, “Love you Surti”.. Makasih sayang..

“Love You jg sayang”, balas si istri sambil meringkuk macam anak kelinci di pelukan suaminya..

***

Yaahhh..

Begitulah ritual sunnah malam Jum’at yg telah sukses mereka lalui, berbagai perasaan puas yg tak akan bisa tergambar oleh Michael Angelo atopun Leonardo Da Vinci..

***

Esok Paginya…

“Mas.. Mas.. Mas Dion”, “Bangun Mas dah Siang”..

“Eeehhmmm”.. Pelan aku menggeliat setelah terasa tepukan-tepukan pelan di pahaku..

“Maaass.. Bangun Mas”..

“Eeeehhmmm”, “Hoooooaamm”.. Perlahan aku mulai membuka mataku.. Di sebelah ranjang kulihat Istriku Surti dengan senyum manisnya, yg ternyata sudah bangun terlebih dahulu, bahkan sudah terlihat segar dengan balutan Daster lengan pendek warna kuning..

“Aaddduuhhh”, “pagi Sayang”, “Jam berapa ini ya?”.. Tanyaku..

“Jam setengah tujuh Mas”.. Sambil kemudian menyisir rambut hitam sepunggungnya yang sekilas nampak masih agak sedikit basah serta tercium harum shampo..

“Semalam katanya jam 8 mau ketemu Pak Sanusi”. Sambungnya..

“Oiyyaa”.. Sambil garuk-garuk kepala..

Aku hampir lupa kalau kemarin siang sudah janjian sama Pak Sanusi, Juragan Kambing dari Desa Sebelah untuk membeli Kambing-kambingku yg sudah layak jual..

***​

Aku pun lantas bangkit, berjalan menghampiri Surti, memeluk mesra Tubuh Semampainya (ingat.. Semampai asli), melingkari perut rampingnya sambil sedikit menggodanya..

“Cantik”. Kataku sambil sedikit mencubit hidung agak mancungnya sembari merasakan wangi shampo rambutnya..

Dan benar saja.. Niatan yg semula hanya sekedar basa-basi setelah bangun tidur, namun pada kenyataannya tidak bagi Dion Junior yg ada di bawah.. Merasakan sedikit enak, aq teruskan dengan sedikit goyangan pada pantatnya sambil mempererat dekapan tangan kananku pada perutnya, serta sedikit remasan nakal tangan kiriku pada payudara 34B miliknya..

“Eehhmmm”, “Massshhh”, “Gelllii”..

Sambil menggeliat Surti ternyata mampu lepas dariku, sambil berbalik kemudian melakukan cubitan kecil pada penisku..

“Adduhhh”, “iihhsss” erangku..

“Nakall ya Pagi-Pagi”.. “Bukannya Bangun Tidur Ku Terus Mandi, malah Bangun Tidur Ku Langsung Horny”.. Balasnya sembari matanya yg sedikit sipit mencoba melotot..

“Ayyo cepat sekarang mandi”, “ndak usah macem-macem”.. Katanya sambil mencubit kecil pinggangku..

“Rambut Surti barusan kering”, “itu seprei korban kolaborasi semalam jg belum sempat di cuci”, “sekarang mau macem-macem lagi”, “Tiddak Bissaaa”.. Sambungnya..

“Pokoknya sekarang mandi.. Mandi.. Dan mandi”..

“Iyyaaaaa”, “iyyaa Sayang”, “ampun.. Ampun”

Akupun meringis sambil berlalu keluar dari kamar, mengambil handuk, untuk kemudian masuk kamar mandi.. Tujuannya jelas.. Selain harus bebersih setelah pertengkaran nikmat semalam, juga pada akhirnya harus menina bobokkan Dion Kecil yg terlanjur mengacung gara-gara gesekan pantat bahenol Surti tadi..

“Hhuuuuaaa”.. “Jeburr.. Jeburr.. Jeburr”.. Begitulah kiranya suara kamar mandi pagi itu.. Di tambah dinginnya air dan juga mepetnya waktu memaksaku untuk secepatnya menyudahi rutinitas ini.. Namun tiba-tiba..

“Maaass”, “Dokk.. Dokk.. Dokk”.. Terdengar ketukan pada pintu kamar mandi yg spontan saja kemudian aku buka..

“Kiyyyaaaaa”.. Jerit Surti sambil Menutup Mata dengan telapak tangannya..

“Lhhhooo”, “ada apa sih Sur kok pake di tutup matanya”.. Selidikku..

“Ittuuuuu”.. Tunjuknya padaku..

“Upppsss”, “Heheheheee”, “maaf sayang, lupa”.. Sambungku..

“Lagian kenapa sih pake di tutup segala”, “Bukannya tadi malam malah merem melek karenanya”. Godaku..

“Iiiihhhh”.. Jawabnya sambil pura-pura begidik seperti kedinginan..

“aku mau ke Bu Sumi sebentar Mas, mau ambil pesenan sayur kemarin”..

“Okkee”.. Jawabku sambil ku lanjutkan kembali ritualku..

***

“Embbeeeekkkk”, “embeeeeeekkk”, “embeeeeekkk”..

Itulah suara khas koloni kambing di kandang sebelah rumah, suara yg selalu kudengar hampir tiap kali aku masuk ke sana untuk memberi makan..

“Embak-embak.. Embak-embak saja kerjamu tiap pagi”.. Ocehku..

“Yyaa iyyyalah Bos.. Namanya Juga Kambing”, “kalo petok-petok mah Ayam kallee”.. Mungkin seperti itulah jawaban mereka kalau seandainya bisa di terjemahkan menggunakan Kamus Bahasa Tarzan..

***

“Haaahh legggaaa”.. Akhirnya selesai pula memberi pakan pagi ini.. Tinggal menunggu Pak Sanusi datang pikirku..

Kemudian aku kembali masuk ke dapur, karena aku ingat di atas meja dapur tadi Surti sudah membuatkan segelas kopi hitam kental agak pahit kesukaanku”.

Namun..

Begitu pintu dapur terbuka, kembali aku di suguhi pemandangan yg sangat indah.. Istriku Surti yg sedang menata bakal sayuran yg baru di belinya tadi.. Namun karena harus di ambil dulu dari Tas untuk kemudian di tata untuk sedikit menghilangkan kadar airnya di atas sebuah meja kecil yg lumayan pendek, menyebabkan ia harus berkali-kali jongkok dan berdiri.. Sehingga dapat di pastikan tunggingan pantat sekalnya mau atau tidak membuat Dion Junior mulai berpikiran mesum, yg celakanya malah di setujui oleh si pemilik yaitu aku..

Maka..

Sambil berjalan pelaaann.. Dan Peelllaaaaann.. Kembali aq rengkuh tubuh semampainya..

“Aawww”, “Maaasss”, “Leeppaasskann”, “Surti masih repot ini lhoo”.. Jeritnya kaget sambil mencoba lepas untuk kedua kalinya sejak peristiwa di kamar tadi..

Tapi.. Tidak untuk kali ini.. Karena telah terjadi perjanjian konkrit antara Dion Jr dan jg aku..

Kali ini rangkulanku makin erat, sambil agak sedikit memaksa, tangan kiriku yg tadi pagi meremas payudaranya, kali ini berubah strategi langsung masuk ke Celana dalamnya, karena Surti saat ini cuma menggunakan daster terusan, maka makin mudah saja tanganku masuk ke celana dalamnya untuk kemudian langsung berhadapan dengan memeknya..

“Iihhhsss”, “mmaasshh”, “Surti Maasssihh Reepppoott”.. Desisnya

Namun tidak aku hiraukan rengekannya, karena justru rengekan itulah yg membuatku makin bersemangan.. Dan tak ayal lagi, tangan kiriku lama-lama terasa makin basah saja, bahkan semakin basah saat klitoris mungilnya ikut tergesek..

“Aahhh Masshh”, “Massshhh”.

Akhirnya.. Jeritan kecil serta tolakannya tadi perlahan semakin melemah berganti rintihan pelan.. Apalagi saat tangan kananku yg semula melingkar di perutnya perlahan naik meremasi payudaranya sambil ku jilat, tiup dan gigit pelan daun telinganya.. Makin syahdulah erangannya..

Namun aku kembali sadar kalo sebentar lg Pak Sanusi mungkin datang.. Maka, tanpa banyak negoisasi lagi.. Aku tarik pinggangnya agak menungging sembari tanggannya aku posisikan bertelekan meja, Aku tarik ke bawah CD Surti, Celana Pendek jg CD ku.. Serta tanpa basa-basi lagi..

“Aaahhh.. Ohhh.. Ohhh.. Ohhhh”. “Mass.. Masss.. Masss”..

Rengekan Surti mulai terdengar.. Surti memang mudah sekali basah, dan hal itu sudah aku ketahui semenjak kita pacaran dulu..

“Ahh.. Ahh.. Hahh.. Hahhh.. Hhaahh”.. Ennak sekali memekmu Sur”, “Anggghheeettt”, “Jepphhitttannya juugggaa mmakkhhinnn mannntthaaap”..

“Hiyyyaaa Maashhh”, “Peennnissssmhhuuu juugghhaaa teerraaassaa mmaakkkinn beeessshhaa.. Aaaaahhrr”.. Mulai terdengarlah alunan desahannya..

“Ayyhhooo Maaassshh”, “Doorrrhhooonngg lleebbbihhh Keennnceeenng.. Haahh.. Hahhhh.. Ooohhh”, “Ssuuurrrtttiii mmaaauuu sssaammpp… Aaaaaaahhhh”.. Jeritnya panjang tak sampai menyelesaikan kalimatnya.. Begitu juga..

“Maaassshh jjugghhaaaaa Ssuuuurrr”, “Heeeeeghhh.. Aaakkhhh”.. Sambil kutekan masuk semua batang penisku yg kemudian memuntahkan amunisinya dalam memek Surti..

Akhirnyaa.. Lumayan capek juga kami berdua, bahkan kalau seandainya Surti tidak aku pegangi, kemungkinan dia akan tersungkur karena nikmat dan capeknya..

Namun, saat kami sedang menikmati istirahat sejenak kami, terdengar gedoran ringan di pintu.. Yang mau atau tidak memaksaku dan Surti untuk segera membersihkan diri masing-masing”..

***

“Ttookk.. Ttookkk.. Took”.. “Maaass”, “Mas Dion”, “Ini saya Pak Sanusi Mass”..

Ternyata Pak Sanusi Juragan Kambing itu yg datang.. Untung tadi sudah selesai.. Heheheheee

“Selamat Pagi Mas Dion”.. Sapa Pak Sanusi

“Selamat Pagi Juga Pak Sanusi”.. Balasku

“Ini saya mau neruskan rencana pembelian kambing yg 50 ekor kemarin”, “apa sudah di siapkan Mas”.. Sambungnya..

“Oooo.. Tenang Pak”. “Sudah saya siapkan semuanya”, “Mari Pak, langsung kita ke kandangnya saja”..

***

Akhirnya..

Transaksi saat itu berjalan dengan sukses.. Pak Sanusi Membeli 50 ekor Kambing yg katanya sudah akan di jual lagi ke pasar..

Dengan uang di tangan, aku kembali masuk rumah, di atas meja aku lihat Kopi Hitamku yg ternyata sudah berpindah tempat..

******​

Kemudian ku ambil Sebatang Surya dari Kotak di kantongku, ku sulut sambil ku minum kopi hitamku yg ternyata sudah agak dingin..

“Srrruuuuuuppptt”, “Fuuuuuuhhh”.. Ku hembuskan ke atas asap rokok itu sampai membentuk lingkaran-lingkaran mirip circle crops yg kontroversial itu.. Sampai pada akhirnya.. Mataku berhenti pada foto di dinding tepat di depanku..

Foto Pernikahanku dan Surti..

Tiba-tiba..

Sambil tersenyum-senyum (tapi maaf, ini jangan di anggap gila), foto itu seperti mengingatkan nostalgia akan kebersamaanku dengan Surti saat ini.. Saat aku pertama kali ketemu Surti.. Yaaa.. Saat itu.. Tepat saat 2 tahun yang lalu………….

***

“Puukkkkkk”,

“Heghh, iyyaa, kenapa”, jawabku tergagap agak kaget saat tiba-tiba ku rasakan sebuah tepukan ringan dengan sukses dan tanpa di duga sebelumnya mendarat di lengan sebelah kiriku..

“Hehh, masih pagi sudah nglamun, kesambet lhoo” canda Surti yg secara tiba-tiba datang tanpa di undang sudah berdiri di sebelah kiriku sambil masih memegang lenganku yg tadi sempat di tepuknya..

“Hehehehee”, jawabku sambil cengengesan mencoba untuk menetralisir kondisi..

Ahhhh.. Ada yg sedikit berbeda dengan Surti saat ini di banding tadi pagi sesaat setelah ku kerjai untuk kemudian ku tinggal bertransaksi dengan Pak Sanusi..

Oiyyaa.. Pakaiannya.. Yg mana apa yg dipakai Surti saat ini sudah berganti, bukan lagi daster tipis lengan pendek, tapi sudah berganti dengan Baju terusan di atas lutut, berwarna kuning muda, dengan 4 buah kancing di bagian depan, berurutan dari bagian leher jenjangnya dan berakhir tepat di tengah-tengah belahan bukit kembar 34B nya, di permanis dengan aksen bordir yg meskipun sekilas nampak sederhana, namun bagiku terlihat indah di tubuh Surti..

Sedangkan untuk bawahannya, Surti mengkolaborasikannya dengan celana bahan berwarna sama namun dengan corak agak gelap..

Hahaaa… Sudah terlihat seperti Pisang yg sudah masak saja istriku.. Padahal yg seharusnya nampak atau punya pisang kan aku, atau jangan-jangan karena tadi pagi sempat aku kasih sarapan pisangku, jadinya Surti masih terngiang sampai akhirnya berpakaian dengan corak seperti itu..
Hahahaaa..

“Lagi mikir apa sih Mas, kok sampai-sampai waktu Raden Ayu Surti lewat ndak tau” candanya sambil kemudian ikut mengambil tempat duduk di sebelah kiriku..

“Oiyya Mas, jadi kan setelah ini kita ke bank?, “katanya semalam seandainya Pak Sanusi jadi beli kambingnya, uangnya langsung mau di setor ke bank biar aman”.. Sambungnya lagi..

“Jadi lah, Sur”, “lha ini uangnya”.. Jawabku sambil menunjukkan sejumlah uang yg tadi ku dapat dari Pak Sanusi sebagai mahar pembelian 50 ekor kambing..

“Lha terus Mas tadi kenapa?, senyum-senyum sambil memandangi foto pernikahan kita?, tanya Surti kemudian.

“Mas cuma sekedar bernostalgia kembali dengan beberapa momen yg menyertai proses terciptanya foto di dinding itu”, jawabku sambil tangan kiriku sedikit merangkul bahu kirinya untuk kemudian di ikuti Surti dengan menyandarkan kepalanya..

“Surti jg kadang punya pikiran yg sama Mas waktu lihat foto itu, masih sangat lekat di pikiran Surti, saat awal dulu Surti bertemu Mas Dion, yg pada awalnya sama sekali tidak paham satu dengan lainnya, berlanjut kemudian mulai timbul adanya perasaan, proses perkenalan, pemantapan, sampai akhirnya bisa bersanding, seperti foto yg sekarang nampak indah terbingkai di pigura berwarna emas yg tergantung di dinding itu”,

“Ooooo… Mas kira yg paling di ingat moment waktu Mas ke rumah Surti malam itu, pas Ibu’ pergi ke rumahnya PakDhe Tohir”, kataku sekenanya dengan maksud sedikit menggoda, namun yg terjadi

“Hiyyaa’, Addduhhh, ssakkiittt Sayaaang”, jeritku setelah secara tiba-tiba terjadi serangan kilat berupa cubitan di pinggang..

“Hiiiiihhh, ayyoo, masih mesum jg, padahal baru saja tadi dapat jatah”, jawab Surti sambil melotot kejam namun dengan senyuman tersungging di bibir seksinya..

“Iyya.. Iyaa.. Ampuunn, nyerah”, jawabku dengan muka yg kubuat-buat terlihat kesakitan sambil tersenyum pula..

“Mas jg masih ingat betul Sur beberapa peristiwa yg kamu bilang tadi, saat pertama ketemu, perkenalan, pendekatan, sampai akhirnya pernikahan”,

“Padahal sebenarnya dibalik semua itu ada sebuah moment yg sangat-sangat krusial, moment yg seandainya saja terlewat, Mas juga ndak paham bisa ketemu kamu atau tidak.. Karena sebelumnya sebuah kejadian yg sangat pahit baru saja Mas alami.. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain, Tuhan seperti mengarahkan Mas untuk mengambil Moment tersebut”, sambungku lagi sambil memegang dagunya, sedikit mengangkat untuk kemudian memandang lekat kedua mata indahnya…

To be continued